RP. Emmanuel Sembiring, OFMCap., bertindak sebagai Pemimpin Perayaan
Ekaristi pada penerimaan 2o orang Postulan di Kapel Suster-suster FCJM “Monteluco’,
Pematangsiantar menegaskan bahwa kita sebagai kaum religus zaman ini hendaknya
mampu melihat dengan arif dan bijak. Sesungguhnya apa yang diharapkan umat
Allah dari kita?. Apakah kepintaran dalam edisi media sosial, kecerdasan dalam musik,
kecerdasan dalam hal keuangan, atau bakat-bakat mengharukan yang ada dalam diri
kita?.
Kotbah tersebut membuat semua penghuni Kapel terdiam dan tertunduk. “Kita
tidak usah menjadi religius kalau hanya ingin sukses”, karena banyak orang lain
yang jauh lebih sukses dan lebih pintar dari kita ini. Namun, Allah memanggil
kita untuk menjadi seorang ahli, yakni ahli dalam “belas kasih”. Allah mengundang kita bergabung dalam Kongregasi
FCJM ini untuk dibina menjadi pribadi-pribadi yang memiliki HATI. HATI
akan mencerminkan belas kasih kepada sesame yang bersumber dari Hati Kudus
Yesus dan Maria.
Hal ini disampaikan untuk mengingatkan supaya kita mampu menunjukkan
wajah belas kasih bagi semua orang yang kita jumpai. Maka, para tunas muda yang
baru saja memasuki masa Postulannya diajak untuk menata hidup rohani dan
pribadi untuk semakin dewasa sesuai spiritulitas Kongregasi FCJM.
Hari ini, 30 Oktober 2016 sengaja dipilih oleh Kongregasi khususnya
Provinsi Indonesia sebagai hari bersejarah karena pada tanggal inilah Muder
Pendiri, Muder Maria Clara Pfänder mendirikan Kongregasi FCJM. Hari ini Kongregasi
genap berusia 156 tahun, maka para Pengikutnya diajak untuk semakin melihat
kedalam dirinya, sudah sejauh mana saya meneladani cara hidup yang diajarkan
oleh Muder Pendiri?.
Sementara RD. Dionisius Sarmento memimpin Perayaan Ekaristis penerimaan 2
orang Postulan di Viqueque,Timor Leste. Acara diadakan di Gereja Paroki Maria
Imaculada da Concecao, Viqueque dan dihadiri oleh umat setempat dan para Suster
FCJM yang berkomunitas di timor Leste.
Postulan FCJM berjumlah 22 orang ini menyatakan kesiapannya untuk dibina
agar semakin dewasa dalam kepribadian dan rohani. Kesiapan hati itu mereka
ungkapkan dihadapan Provinsial FCJM Provinsi Indonesia, Sr.M.Cornelia Silalahi
FCJM dan Sr.M.Blandina Mahulae FCJM sebagai delegasi FCJM di Timor Leste. Proficiat ya adek-adek yang
cantik-cantik dan manis….selamat datang di FCJM, mari kita sama-sama mendayung
perahu “Duc In Altum” dalam Kongregasi
FCJM. Angela
| Pengalungan Bunga kepada Mgr.Anicetus B. Sinaga, OFMCap. |
Pagi
yang cerah, saat nafas pertama sang fajar berhembus menyapa
angin,
terdengar dentuman marching band yang dibawakan
oleh siswa/i SD St. Antonius Padua
Tiga Dolok menggelegar menyambut kedatangan rombongan Yang Mulia Uskup Keuskupan
Agung Medan, Mgr.
Anicetus Bongsu Antonius Sinaga, OFMCap.,
para imam, Dewan Pimpinan FCJM Provinsi Indonesia, Pengurus Yayasan Puteri Hati
Kudus, dan jajaran pemerintahan kecamatan Dolok Panribuan. Hari itu, Jumat
16/09/2016 mencatat sebuah sejarah bahwa acara pemberkatan dan peresmian SD St.
Antonius Padua Tiga Dolok, yang di awali dengan pengalungan bunga kepada Yang
Mulia Bapak Uskup Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap., Provinsial FCJM Provinsi
Indonesia, Sr.M.Cornelia Silalahi FCJM, Ketua Yayasan Puteri Hati Kudus (YPHK),
Sr.M.Frederika Hasugian FCJM dan Dandrem 022 Pantai Timur Pematangsiantar
diwakili oleh Kasilog Letkol B.Simbolon. Acara dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi
yang dipimpin oleh Yang Mulia Bapak Uskup Agung Medan, di damping oleh beberapa
imam konselebran, pada Pkl 09.00 WIB, kemudian perecikan ruangan sekolah,
penandatanganan Prasasti, pemotongan pita, serta acara ramah tamah.
| Pengguntingan Pita oleh Yang Mulia Bapak Uskup |
Dalam
kotbahnya, Yang Mulia Bapak Uskup menyampaikan bahwa belum
lama ini kita umat Katolik se-Kesukupan Agung Medan melaksanakan perhelatan akbar yakni SINODE VI
KAM, yang mengusung tema “keluarga
adalah Gereja kecil”. Hal ini memuat misi pendidikan bahwa keluargalah
sekolah perdana bagi anak-anak. Sebagaimana kita sering mendengar dalam
pengumuman di Gereja bagi setiap anak yang lahir, dikatakan dalam bahasa batak:
”sai gabe anak na hasea ma dakdanak on
diadopan ni Debata dohot dongan jolma” (Semoga anak ini
ini menjadi orang yang berguna dihadapan Tuhan dan sesamanya). Ungkapan ini
mengandung makna Pancasilais yang paling mendasar, juga sesuai dengan isi dokumen
Gereja mengenai pendidikan maupun dokumen nasional. Hendaklah anak didik
menjadi anak yang takwa kepada Tuhan dan berjasa bagi masyarakat. Hendaklah
anak didik menjadi orang beriman dan takwa kepada Tuhan dan berjasa kepada
Masyarakat.
Kiranya insan-insan
pendidikan dan keluarga di tempat ini berjanji agar tidak akan pernah
melahirkan orang-orang yang berwatak keras dan jahat. Mari mewujudkan cita-cita
bangsa kita yakni menjadi pembawa damai dan persaudaraan sejati. Saya
mengundang kita semua yang hadir disini, untuk melaksanakan pesan dari Konferensi
Tingkat Tinggi Asia–Afrika di Bandung tahun 1955,
yang sangat men dambakan persaudaraan seluruh dunia dan perdamaian lestari bagi
segala bangsa. Sekolah dan keluarga umat disini dituntut untuk bahu membahu, bersama
dengan pemerintah melahirkan orang-orang yang luhur serta bijak sebagaimana
telah dicita-citakan UUD 1945, yakni hendaklah kita mengutamakan persaudaraan
sejati dan perdamaian seluruh dunia. Jika hal ini kita patrikan dalam diri
kita, alangkah ajaib dan mulianya, alangkah indahnya hari ini menjadi permulaan
yang sangat cerah, tambahnya.
Kita telah mengetahui
bahwa sekolah merupakan “taman” intelektual. Di dalamnya terdapat
permainan intelek (asah, asih dan asuh
nalar nurani) bagi orang-orang yang mencintai pendidikan. Ketika ditransfer
dalam perspektif agama, sekolah kemudian diartikan sebagai “taman mini” Kerajaan
Allah yang mengakomodir setiap orang untuk mendapat pendidikan yang layak. Untuk menuwujudkan hal ini, para pemangku
pendidikan perlu kiranya menyediakan fasilitas yang mendukung. Fasilitas yang
mendukung tersebut yakni, para pendidik baik kepala sekolah, pendidik dan
kependidikan, gedung sekolah, dan fasilitas lainnya. Keseluruhan stakeholder itu turut menentukan
kompetensi anak didik yang diharapkan.
| Yang Mulia Uskup Medan, Para Imam Konselebran, DPP FCJM, Pengurus YPHK berpose bersama |
Secara geografis,
lokasi SD St. Antonius Padua cukup primitif dan nampaknya sulit untuk
berkembang karena rumah di sekitar sekolah tersebut masih bisa dihitung dengan jari,
sehingga Bpk. Albert Sinaga, pengurus YPHK dalam sambutannya mengatakan secara
materi Yayasan mengalami kerugian dalam membangun gedung sekolah ini, dan akan
lebih menguntungkan bila diinvestasikan ke bank. Namun, Yayasan mendirikan
sekolah ini bukanlah untuk akses bisnis, dan Yayasan berusaha menabung di BTS (Bank Tabungan Sorga), sehingga Yayasan merasa sangat beruntung
karena menabung kebaikan di tempat ini. Ada ungkapan dalam bahasa simalungun mengatakan
“ai aha do na I parayak mu na manggoluh on” (apa
yang kamu cari di dalam hidup ini). Diharapkan sekolah ini menjadi
istana yang membahagiakan bagi anak-anak bangsa. Maka, perlu ada sinergitas antara kaum pendidik, orangtua, dan
pemerintahan. Orangtua perlu menyadari perannya sebagai
guru dan imam. Sebagai guru yang yang memberikan pendidikan dan pengajaran dan
sebagai imam yang menguduskan dan gembala yang menuntun dan mengarahkan. Inilah
implementasi tema SINODE VI KAM yang baru saja kita laksanakan, yakni “keluarga sebagai gereja kecil”.
Sekolah ini akan
berupaya mengangkat harkat mereka yang kurang beruntung dalam masyarakat sehingga menjadi setara
dengan mereka yang memiliki previlese. Sehingga dalam konteks ini, guru memiliki fungsi
liberatif, yakni membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan dan membuat anak-anak
orang miskin mengalami mobilitas sosial dalam masyarakat. Namun, bagi setiap orang yang
memungkinkan terjadinya mobilitas sosial, terdapat juga pandangan lain yang
lebih radikal. Alih-alih sebagai lembaga yang membebaskan, seperti kita lihat pada
kenyataannya banyak sekolah hanya melestarikan status
quo dan mereproduksi struktur sosial dan ketimpangan dalam masyarakat.
Sekolah memiliki fungsi konservatif, yaitu melanggengkan ketimpangan dan
semakin memperlebar jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Sekolah
bukannya membawa si miskin pada mobilitas sosial lebih tinggi melainkan malah
membuatnya terpinggir dan tersisih.
Mudah-mudahan hal ini tidak akan dijumpai di sekolah ini.
Oleh karena itu, tugas
berat berada di pundak para guru kami, demikian disampaikan oleh Sr.M.Cornelia
Silalahi FCJM, Provinsial FCJM. Kita tau
bahwa guru adalah pelaku perubahan. Di zaman kita yang kompleks ini, ditangan para
gurulah kita letakkan hakekat perubahan itu, karena dengan
kegiatannya mengajar, ia membentuk identitas keguruannya. Dan melalui identitas
inilah ia mengukuhkan dirinya sebagai pelaku perubahan. Kegiatan mengajar yang
dilakukan guru di kelas akan memberikan perubahan dalam diri siswanya yang akan
berguna bagi hidupnya mengatasi batas-batas kelas. Sebagai pelaku perubahan,
guru menngubah siswa menjadi lebih baik, lebih pandai, lebih memiliki
ketrampilan yang berguna bagi pengembangan profesi mereka dalam masyarakat.
Guru membuat siswa memahami persoalan dengan lebih jernih sehingga mampu membuat
keputusan dan bertindak secara tepat dan bertanggungjawab dalam hidup mereka.
Guru yang baik membuat siswa siap terjun secara aktif dalam masyarakat sehingga
mampu membangun dan menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik dari yang
sekarang ini mereka alami.
Singkatnya, guru menjadi penentu perubahan dan masa depan bangsa. Maka
diharapkan, guru tetap mampu menumbuhkan kemampuan dirinya
sebagai pelaku perubahan adalah dengan menghayati visi pribadi. Dengan demikian, kita ambil kesimpulan bahwa Pendidikan adalah password penyambung masa depan bangsa
yang lebih cerah.
Untuk itu, kami sangat
mengharapkan adanya kerjasa sama yang baik antara Yayasan, kepala sekolah,
guru, orangtua, anak didik, pihak pemerintahan setempat, Gereja, dan semua saja
yang berandil dalam menentukan kemajuan dan mutu anak-anak bangsa kita di
tempat ini. Hal ini memang tidaklah gampang, namun kami yakin dengan niat baik
yang tertanam di hati kita masing-masing kita mampu mengayunkan perahu
pendidikan di sekolah ini kearah yang lebih baik dan maju, ungkap Sr. Cornelia saat mengakhiri acara
ini. * Sr. Angela Siallagan FCJM.
Senin, 06 Juni 2016 merupakan moment bersejarah bagi Kongregasi FCJM. Moment ini dimaknai dengan Perayaan Ekaristi dan syukuran atas tumbuhnya tunas baru FCJM, yakni 14 orang Postulan diterima memasuki masa Novisiatnya. Perayaan ekaristi di pimpin oleh RP. Andreas Win Turnip, OFMCap., mengajak para Pastor, Suster, dan umat yang hadir untuk mampu setia dalam panggilan Tuhan. Para Suster Novis yang baru menerima jubah Biara ini hendaknya menanamkan di dalam hatinya, bahwa jubah ini adalah jubah pertobatan. Jubah ini diterima karena kerelaan untuk meninggalkan hal-hal duniawi, meskipun masih sedang berada di dunia. Novisiat punya cerita dalam hidup membiara. Novisiat menyimpan sejuta kenangan indah dan bahagia. Masa Novisiat adalah masa di Gunung Tabor.
Kapel FCJM “Greccio” ini mendadak riuh dengan tepuk tangan, gemuruh dengan tempik sorak tak terkendali para Suster dan umat yang menyesaki ruang tersebut saat para Pembina Novis menjawab dengan kata “SIAPPPPP”, dengan semangat yang membara dan bahagia. Namun, kemudian ruangan menjadi senyap kembali, sesaat Perayaaan Ekaristi akan di akhiri dengan berkat penutup.
Selamat kepada ke 15 Suster Novis yang memakai Jubah Pertobatan dan mari belajar meneladan visi dan misi Kongreasi FCJM bersama dengan pendiri kita Muder Maria Clara Pfänder sehingga kita mampu setiap merawat panggilan Tuhan yang telah tumbuh dalam diri kita, pungkas Sr. Cornelia Silalahi, FCJM untuk mengakhiri acara tersebut.
Maka, selamat kepada para Suster Novis yang tinggal di Gunung Tabor selama dua tahun ini, ungkap RD. Andreas dalam kotbahnya.
Acara yang di adakan di Sinaksak, Pematangsiantar ini dimulai pada Pkl
17.00 WIB, dan dihadiri oleh para Suster FCJM yang berkomunitas di
sekitar Pematangsiantar, dan anak-anak Panti Pius ke IX.
Postulan Maria de Jesus yang mengambil nama Biara Sr.M.Antonia de Jesus juga diterima memasuki masa Novisiatnya di Komunitas FCJM, Atambua, pada tanggal 21 Mei 2016 yang lalu. Maka, mari meyambut ke 15 orang tunas muda FCJM dalam masa pembinaan di Novisiat, sambut Sr. Cornelia Silalahi FCJM sebagai Propinsial FCJM Propinsi Indonesia. Mari kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah menanamkan benih panggilan dalam hati para pemudi ini. Maka, DPP FCJM Propinsi Indonesia menyerahkan tugas pembinaan para Suster Novis ini kepada keempat Pembina Novis, yakni Sr.Avelina Simbolon FCJM, Sr. Yovita Manalu FCJM, Sr. Evifania Sinaga FCJM, dan Sr. Albertine Situmorang FCJM.
Postulan Maria de Jesus yang mengambil nama Biara Sr.M.Antonia de Jesus juga diterima memasuki masa Novisiatnya di Komunitas FCJM, Atambua, pada tanggal 21 Mei 2016 yang lalu. Maka, mari meyambut ke 15 orang tunas muda FCJM dalam masa pembinaan di Novisiat, sambut Sr. Cornelia Silalahi FCJM sebagai Propinsial FCJM Propinsi Indonesia. Mari kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah menanamkan benih panggilan dalam hati para pemudi ini. Maka, DPP FCJM Propinsi Indonesia menyerahkan tugas pembinaan para Suster Novis ini kepada keempat Pembina Novis, yakni Sr.Avelina Simbolon FCJM, Sr. Yovita Manalu FCJM, Sr. Evifania Sinaga FCJM, dan Sr. Albertine Situmorang FCJM.
Para Suster Novis baru berpose bersama Imam dan DPP FCJM |
Selamat kepada ke 15 Suster Novis yang memakai Jubah Pertobatan dan mari belajar meneladan visi dan misi Kongreasi FCJM bersama dengan pendiri kita Muder Maria Clara Pfänder sehingga kita mampu setiap merawat panggilan Tuhan yang telah tumbuh dalam diri kita, pungkas Sr. Cornelia Silalahi, FCJM untuk mengakhiri acara tersebut.
Omnia vincit amor (Cinta akan Mengalahkan Segalanya)
| Jubilaris berpose bersama para Para Imam dan DPP FCJM |
PESTA SYUKUR pengucapan Kaul Kekal enam orang Suster FCJM Propinsi Indonesia di Kapel hati Kudus, Jl. Viyata Yudha, Pematang Siantar, Sabtu (25/06/2016), Pkl 09.00 WIB berlangsung meriah. Misa konselebrasi 24 orang Imam dan selebran utama Vikjen Keuskupan Agung Medan, RP. Elias Semangat Sembiring, OFMCap. dihadiri sekitar sekitar 500 orang biarawan/ti, keluarga Jubilaris dan umat Allah.
“Aku milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya”, merupakan tema yang dipilih oleh ke enam orang Jubilaris, yakni: Sr.M.Meriam Siagian FCJM, Sr.M.Wenseline Taequi FCJM, Sr.M.Angelica Tarigan FCJM, Sr.M.Eligia Barutu FCJM, Sr.M.Flaviana Ndruru FCJM, dan Sr.M..Oliva Nainggolan FCJM. Tema ini mengandung makna yang mendalam. Mereka mengikatkan dirinya bagi Allah lewat Kongregasi FCJM yang pada hari ini menjanjikan kaul seumur Hidup. Dengan demikian, orangtua yang juga hadir pada hari ini rela mempersembahkan puterinya demi karya pelayanan dalam Kongregasi,”ujar Moderator FCJM, RP. Elias Sembiring dalam kotbahnya.
“Aku milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya”, merupakan tema yang dipilih oleh ke enam orang Jubilaris, yakni: Sr.M.Meriam Siagian FCJM, Sr.M.Wenseline Taequi FCJM, Sr.M.Angelica Tarigan FCJM, Sr.M.Eligia Barutu FCJM, Sr.M.Flaviana Ndruru FCJM, dan Sr.M..Oliva Nainggolan FCJM. Tema ini mengandung makna yang mendalam. Mereka mengikatkan dirinya bagi Allah lewat Kongregasi FCJM yang pada hari ini menjanjikan kaul seumur Hidup. Dengan demikian, orangtua yang juga hadir pada hari ini rela mempersembahkan puterinya demi karya pelayanan dalam Kongregasi,”ujar Moderator FCJM, RP. Elias Sembiring dalam kotbahnya.
Pemberkatan
Kantor Yayasan JECIMA
dan
Kegiatan Tahun Hidup Bakti (THB) Kongregasi FCJM
Kongregasi suster FCJM propinsi Indonesia dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan atas peresmian dan pemberkatan kantor Yayasan JECIMA, pada 28 Januari 2016. Kantor Yayasan JECIMA terletak di depan gerbang pintu masuk Propinsialat FCJM”Monteluco”, Jl.Viyata Yudha–Pematangsiantar.
Acara ini di hadiri oleh DPP FCJM Propinsi Indonesia,Tri Organ Yayasan JECIMA, umat Stasi St. Maria SKI serta para Suster yang berkomunitas FCJM Se-Pematangsiantar. Acara dimulai dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Paroki St.Yoseph Jl.Bali, yakni RD. Anggiat Sihotang. Dalam homilinya beliau menegaskan pentingnya pembangunan gedung Yayasan tersebut sebagai sarana pelayanan orang-orang sakit dan lemah. Sembari mengingat pelayanan FCJM yang sungguh membawa dampak positif di Parlilitan. Ketika itu ada salah seorang umat yang cacat dan tidak mendapat perawatan karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan, maka Suuster-suster FCJM langsung membawanya ke Rehabilitasi Harapan Jaya-Pematangsiantar untuk mendapat pengobatan.
Pistar di Parrohaon, Pistar di Parugamaon
Senin, 23 Februari 2016 di Tiga Dolok, merupakan hari terlaksananya pesta syukuran, atas peletakan batu pertama bangunan SD St. Antonius Padua – Tiga Dolok patut dirayakan dengan meriah. Luapan rasa syukur ini menjadi bagian sejarah bagi Kongregasi Suster FCJM secara khusus di bidang pendidikan dalam naungan Yayasan Puteri Hati Kudus (YPHK) di tingkat SD.
Senin, 23 Februari 2016 di Tiga Dolok, merupakan hari terlaksananya pesta syukuran, atas peletakan batu pertama bangunan SD St. Antonius Padua – Tiga Dolok patut dirayakan dengan meriah. Luapan rasa syukur ini menjadi bagian sejarah bagi Kongregasi Suster FCJM secara khusus di bidang pendidikan dalam naungan Yayasan Puteri Hati Kudus (YPHK) di tingkat SD.
Seluruh rangkaian acara dimulai dengan Perayaan Ekaristi meriah yang dipimpin oleh Pastor paroki RP. Fransiskus Radiaman Purba, OFM Conv., di damping RP. Joseph Pandia, OFM Conv., dihadiri oleh ketua Yayasan berserta jajarannya, pengawas SD Dolok Panribuan yakni Bapak Aman Sitorus, S.Pd., Pangulu Nagori Tiga Dolok yakni Robet Damanik, SE., para Suster FCJM se-Siantar, DPP dan umat Paroki St. Antonius Padua Tiga Dolok, serta orangtua siswa/i SD.
“Gereget Study Tour”
![]() |
| Add caption |
(Tenaga Pendidik dan Kependidikan SMK Assisi Siantar)
Rabu, 23 September 2015, menjadi saat yang dinanti oleh tenaga pendidik dan kependidikan SMK Assisi Siantar. Kegembiraan tergambar begitu jelas di wajah mereka ketika hari keberangkatan itu telah tiba. Satu persatu menuju travel yang telah siap mengantar ke bandara Kuala Namu dengan suara yang riuh dan senyum lepas. Tangan kiri menenteng tas kecil, sedangkan tangan kanan menarik kopor masing-masing yang cukup menggemuk karena berisi beberapa pakaian, perlengkapan mandi, dan lain-lain.
Rabu, 23 September 2015, menjadi saat yang dinanti oleh tenaga pendidik dan kependidikan SMK Assisi Siantar. Kegembiraan tergambar begitu jelas di wajah mereka ketika hari keberangkatan itu telah tiba. Satu persatu menuju travel yang telah siap mengantar ke bandara Kuala Namu dengan suara yang riuh dan senyum lepas. Tangan kiri menenteng tas kecil, sedangkan tangan kanan menarik kopor masing-masing yang cukup menggemuk karena berisi beberapa pakaian, perlengkapan mandi, dan lain-lain.
Perasaan lelah dan jenuh yang tersimpan bertahun-tahun, kini lepas saat kesempatan study tour selama 6 hari itu tiba, yakni tanggal 23 – 28 september 2015, diadakan di Malasya, Bangkok dan Singapore dan ditutup dengan pertemuan alumni SMK yang ada di Batam. Mereka juga didampingi oleh Pelaksana harian Yayasan Puteri Hati Kudus (YPHK). Selama enam (6) hari mengunjungi sekolah Katolik Saint Yoseph Convent School di Bangkok. Dengan mengamati situasi sekolah yang bersih, rapi, displin dan berkualitas, maka tenaga pendidik mulai berpikir untuk mengubah mindset mereka untuk semakin kreatif dan inovatif dalam memberikan pendidikan kepada anak didik mereka. dikunjungi untuk selanjutnya melakukan perbaikan yang di anggap perlu. Selain itu mereka juga mengunjungi tempat-tempat wisata dan bersejarah di Malasya, Bangkok dan Singapore. Kesempatan ini untuk me refresh kembali semangat mengajar, menjadi sarana yang tepat untuk mengambil jarak dari rutinitas yang membosankan. Di samping penyegaran karena hampir setiap hari mengajar dan bergelut dengan persoalan- persoalan peserta didik, study tour merupakan salah satu sarana membuat kita rileks.
http://www.mirifica.net/2015/10/04/catatan-perjalanan/
“Geliat Study Tour” di Negara Singapura (Revolusi Mental – Pendidikan Karakter – Pemanusiaan Manusia)
Prolog
Kita pantas mengakui Ki Hajar Dewantoro sebagai “Nabi” besar Indonesia yang membawa pencerahan (aufklarung) bagi dunia pendidikan Indonesia. Asli karakter pendidikan yang telah dirintis Ki Hajar Dewantoro yakni pendidikan menjadi sarana untuk memanusiakan manusia, pendidikan merupakan medan hidup manusia. Di satu pihak, pendidikan terbentuk dari realitas manusia sebagai makhluk rasional yang secara individual dan kolektif mengekspresikan dirinya dalam berbagai daya kreasi dan actus akhlak mulia. Di lain pihak, pendidikan membentuk manusia menjadi pribadi utuh yang memiliki keutamaan-keutamaan tertentu.
Mengapa Ki Hajar Dewantoro gigih memperjuangkan pendidikan di Indonesia? Bila ditilik secara terminologis, term pendidikan itu sendiri berarti membebaskan. Orang yang hidupnya terkurung dalam tirai ketakberdayaan, tersekat di dunia yang sempit, gelap dan pengab, dihantar keluar (e-ducere) menuju dunia yang luas, cerah, terang, bebas dan lapang. Titik perjuangan Ki Hajar Dewantoro berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi negara Indonesia yang waktu itu terkungkung di bawah penjajah asing, dimana orang-orang pribumi hidup di dalam dunia yang sangat tersekat dan terbatas ruang geraknya.
http://www.mirifica.net/2014/10/31/geliat-study-tour-di-negara-singapura-revolusi-mental-pendidikan-karakter-pemanusiaan-manusia/
Kita pantas mengakui Ki Hajar Dewantoro sebagai “Nabi” besar Indonesia yang membawa pencerahan (aufklarung) bagi dunia pendidikan Indonesia. Asli karakter pendidikan yang telah dirintis Ki Hajar Dewantoro yakni pendidikan menjadi sarana untuk memanusiakan manusia, pendidikan merupakan medan hidup manusia. Di satu pihak, pendidikan terbentuk dari realitas manusia sebagai makhluk rasional yang secara individual dan kolektif mengekspresikan dirinya dalam berbagai daya kreasi dan actus akhlak mulia. Di lain pihak, pendidikan membentuk manusia menjadi pribadi utuh yang memiliki keutamaan-keutamaan tertentu.
Mengapa Ki Hajar Dewantoro gigih memperjuangkan pendidikan di Indonesia? Bila ditilik secara terminologis, term pendidikan itu sendiri berarti membebaskan. Orang yang hidupnya terkurung dalam tirai ketakberdayaan, tersekat di dunia yang sempit, gelap dan pengab, dihantar keluar (e-ducere) menuju dunia yang luas, cerah, terang, bebas dan lapang. Titik perjuangan Ki Hajar Dewantoro berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi negara Indonesia yang waktu itu terkungkung di bawah penjajah asing, dimana orang-orang pribumi hidup di dalam dunia yang sangat tersekat dan terbatas ruang geraknya.
http://www.mirifica.net/2014/10/31/geliat-study-tour-di-negara-singapura-revolusi-mental-pendidikan-karakter-pemanusiaan-manusia/
Pesta Syukur 25, 40, dan 60 FCJM
“Bersyukur dan Bersukacita”
(Pesta 25, 50, dan 60 Tahun Hidup
Membiara Kongregasi FCJM)
Sabtu, 08 Desember 2015 terdengar dentuman gondang batak, biola, gitar, organ, bagai menggelegar mengiringi derap langkah 8 orang jubilaris yakni enam orang yang berpesta 25 tahun, 1 orang yang berpesta 50 tahun dan 2 orang berpesta 60 tahun hidup membiaranya dalam persaudaraan Kongregasi FCJM.
Perayaan syukur dibingkai dengan animasi liturgi yang dikemas apik oleh tim liturgi FCJM. Petugas liturgi dan koor inti turut ambil bagian dalam memeriahkan pesta ini. Para suster FCJM dibantu oleh para Frater TOR (Tahun Orientasi Rohani) dalam menganimasi liturgi dalam acara ini.
Diterbitkan di majalah MENJEMAAT edisi Desember 2015
MENJEMAAT : Majalah KOMSOS KAM




