Kepemimpinan Religius Versus Kepemimpinan Yesus (Mengintip Model Kepemimpinan Yang Eksamplis)
Prolog
Socrates, filsuf besar Yunani pernah berujar demikian : Ho de aneksetastos bio ou biotos Anthropoi, artinya hidup yang tidak direflekasikan adalah “hidup yang tak pantas dihidupi”. Refleksi Socrates ini selalu dihayati dan dimaknai oleh kaum religius sebagai upaya kisah kasih anak-anak manusia, yang tidak pernah lepas dari suatu pencaharian hati menanggapi kehendak Allah. Tuhan mungkin saja bertanya, bagaimana dengan anda, orang-orang pilihan-Ku? Kenalilah dirimu sendiri. Jadilah pemimpin yang mampu mengenal diri dan dikenal kawanan domba yang digembalakan.
Kehidupan Masa Kini
Kita sedang berada dalam situasi dunia yang sangat dinamis. Dinamika itu ditandai dengan perkembangan yang begitu pesat dalam segala bidang kehidupan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan ,teknologi informatika dan komunikasi yang kerap menjadi tantangan besar bagi kepemimpinan religius. Dunia tampak semakin sempit dan kecil, dimana dengan mudahnya komunikasi dapat terjalin walau tanpa adanya batas privasi dan tatap muka. Para pelakon panggung dunia telah menggeser ruang “Factual” menjadi ruang “Maya”. Dengan layar Monitor, Hp, IP Pad bisa menimbulkan canda, tawa ria, berbagi pengalaman hidup (curhat), seolah-olah sedang berada dalam ruang lingkup yang sama. Banyak orang lebih mementingkan gadget yang mereka miliki dari pada relasi personal dengan orang sekitarnya. Betapa dunia menjadi begitu “dekat” dengan kehadiran piranti-piranti dari teknologi komunikasi dan informatika dengan berbagai cara seperti BBM, WhatsApp, Facebook, Twitter, Skype, Just Voip, Line dan jejaring sosial lainnya. Sehingga di satu sisi, yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Namun, di lain sisi manusia justru teralienasi (terasing) dari sosialitas karena lingkungan sekitar tak lagi mendapat perhatian kita. Saat butiran air mata menjadi saksi ketidakadilan, kebencian, kesulitan ekonomi dan kehidupan sosial menimpa sesama disamping kita….masihkah ada satu penghiburan untuk setiap luka yang sedang mereka alami?.
Socrates, filsuf besar Yunani pernah berujar demikian : Ho de aneksetastos bio ou biotos Anthropoi, artinya hidup yang tidak direflekasikan adalah “hidup yang tak pantas dihidupi”. Refleksi Socrates ini selalu dihayati dan dimaknai oleh kaum religius sebagai upaya kisah kasih anak-anak manusia, yang tidak pernah lepas dari suatu pencaharian hati menanggapi kehendak Allah. Tuhan mungkin saja bertanya, bagaimana dengan anda, orang-orang pilihan-Ku? Kenalilah dirimu sendiri. Jadilah pemimpin yang mampu mengenal diri dan dikenal kawanan domba yang digembalakan.
Kehidupan Masa Kini
Kita sedang berada dalam situasi dunia yang sangat dinamis. Dinamika itu ditandai dengan perkembangan yang begitu pesat dalam segala bidang kehidupan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan ,teknologi informatika dan komunikasi yang kerap menjadi tantangan besar bagi kepemimpinan religius. Dunia tampak semakin sempit dan kecil, dimana dengan mudahnya komunikasi dapat terjalin walau tanpa adanya batas privasi dan tatap muka. Para pelakon panggung dunia telah menggeser ruang “Factual” menjadi ruang “Maya”. Dengan layar Monitor, Hp, IP Pad bisa menimbulkan canda, tawa ria, berbagi pengalaman hidup (curhat), seolah-olah sedang berada dalam ruang lingkup yang sama. Banyak orang lebih mementingkan gadget yang mereka miliki dari pada relasi personal dengan orang sekitarnya. Betapa dunia menjadi begitu “dekat” dengan kehadiran piranti-piranti dari teknologi komunikasi dan informatika dengan berbagai cara seperti BBM, WhatsApp, Facebook, Twitter, Skype, Just Voip, Line dan jejaring sosial lainnya. Sehingga di satu sisi, yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Namun, di lain sisi manusia justru teralienasi (terasing) dari sosialitas karena lingkungan sekitar tak lagi mendapat perhatian kita. Saat butiran air mata menjadi saksi ketidakadilan, kebencian, kesulitan ekonomi dan kehidupan sosial menimpa sesama disamping kita….masihkah ada satu penghiburan untuk setiap luka yang sedang mereka alami?.
“Geliat Study Tour” di Negara Singapura (Revolusi Mental – Pendidikan Karakter – Pemanusiaan Manusia)
Prolog
Kita pantas mengakui Ki Hajar Dewantoro sebagai “Nabi” besar Indonesia yang membawa pencerahan (aufklarung) bagi dunia pendidikan Indonesia. Asli karakter pendidikan yang telah dirintis Ki Hajar Dewantoro yakni pendidikan menjadi sarana untuk memanusiakan manusia, pendidikan merupakan medan hidup manusia. Di satu pihak, pendidikan terbentuk dari realitas manusia sebagai makhluk rasional yang secara individual dan kolektif mengekspresikan dirinya dalam berbagai daya kreasi dan actus akhlak mulia. Di lain pihak, pendidikan membentuk manusia menjadi pribadi utuh yang memiliki keutamaan-keutamaan tertentu.
Mengapa Ki Hajar Dewantoro gigih memperjuangkan pendidikan di Indonesia? Bila ditilik secara terminologis, term pendidikan itu sendiri berarti membebaskan. Orang yang hidupnya terkurung dalam tirai ketakberdayaan, tersekat di dunia yang sempit, gelap dan pengab, dihantar keluar (e-ducere) menuju dunia yang luas, cerah, terang, bebas dan lapang. Titik perjuangan Ki Hajar Dewantoro berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi negara Indonesia yang waktu itu terkungkung di bawah penjajah asing, dimana orang-orang pribumi hidup di dalam dunia yang sangat tersekat dan terbatas ruang geraknya.
http://www.mirifica.net/2014/10/31/geliat-study-tour-di-negara-singapura-revolusi-mental-pendidikan-karakter-pemanusiaan-manusia/
Kita pantas mengakui Ki Hajar Dewantoro sebagai “Nabi” besar Indonesia yang membawa pencerahan (aufklarung) bagi dunia pendidikan Indonesia. Asli karakter pendidikan yang telah dirintis Ki Hajar Dewantoro yakni pendidikan menjadi sarana untuk memanusiakan manusia, pendidikan merupakan medan hidup manusia. Di satu pihak, pendidikan terbentuk dari realitas manusia sebagai makhluk rasional yang secara individual dan kolektif mengekspresikan dirinya dalam berbagai daya kreasi dan actus akhlak mulia. Di lain pihak, pendidikan membentuk manusia menjadi pribadi utuh yang memiliki keutamaan-keutamaan tertentu.
Mengapa Ki Hajar Dewantoro gigih memperjuangkan pendidikan di Indonesia? Bila ditilik secara terminologis, term pendidikan itu sendiri berarti membebaskan. Orang yang hidupnya terkurung dalam tirai ketakberdayaan, tersekat di dunia yang sempit, gelap dan pengab, dihantar keluar (e-ducere) menuju dunia yang luas, cerah, terang, bebas dan lapang. Titik perjuangan Ki Hajar Dewantoro berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi negara Indonesia yang waktu itu terkungkung di bawah penjajah asing, dimana orang-orang pribumi hidup di dalam dunia yang sangat tersekat dan terbatas ruang geraknya.
http://www.mirifica.net/2014/10/31/geliat-study-tour-di-negara-singapura-revolusi-mental-pendidikan-karakter-pemanusiaan-manusia/
Pesta Syukur 25, 40, dan 60 FCJM
“Bersyukur dan Bersukacita”
(Pesta 25, 50, dan 60 Tahun Hidup
Membiara Kongregasi FCJM)
Sabtu, 08 Desember 2015 terdengar dentuman gondang batak, biola, gitar, organ, bagai menggelegar mengiringi derap langkah 8 orang jubilaris yakni enam orang yang berpesta 25 tahun, 1 orang yang berpesta 50 tahun dan 2 orang berpesta 60 tahun hidup membiaranya dalam persaudaraan Kongregasi FCJM.
Perayaan syukur dibingkai dengan animasi liturgi yang dikemas apik oleh tim liturgi FCJM. Petugas liturgi dan koor inti turut ambil bagian dalam memeriahkan pesta ini. Para suster FCJM dibantu oleh para Frater TOR (Tahun Orientasi Rohani) dalam menganimasi liturgi dalam acara ini.
Diterbitkan di majalah MENJEMAAT edisi Desember 2015
MENJEMAAT : Majalah KOMSOS KAM
Dominus Illuminatio Mea
(Tuhanlah Cahayaku, Tuhanlah
Terangku)
Senin, 08 Desember 2014 merupakan moment bersejarah dalam Kongregasi
FCJM. Moment ini dimaknai dengan dua peristiwa iman. Peristiwa iman
pertama; pemberkatan ruang adorasi. Uskup Keuskupan Agung Medan (KAM),
Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFM memberkati dan meresmikan ruang Adorasi
"Santa Maria Tak Bernoda" yang akan digunakan oleh Suster-Suster FCJM
“Monteluco” di Jl. Viyata Yudha. Bantuan untuk pembangunan ini bersumber
dari pemberian PT. Bank Mandiri berupa hibah (material) senilai Rp. 99
juta. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas iman para suster
FCJM dan umat di dalam doa-doa privat maupun doa-doa kelompok. Bantuan
tersebut diserahkan bapak Soloan Siringoringo selaku manager area PT
Bank Mandiri kepada Sr. M. Cornelia Silalahi selaku pimpinan Kongregasi
yang disaksikan oleh anggota dewan dan para suster lainnya, pada pada
hari Selasa tanggal 09 Desember 2014. Sr. M. Cornelia Silalahi mewakili
anggota Kongregasi FCJMmengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang
diberikan untuk pembangunan Ruang Adorasi dan diharapkan tempat doa ini
sungguh akan menjadi sumber kekuatan rohani. Seperti dikutip dalam
Analisadaily.com, bantuan yang merupakan program Corporate Social
Responsibility (CSR) atau PKBL Bank Mandiri bera-sal dari dana Program
Bina Lingkungan Bank Mandiri tahun anggaran 2014 diharap¬kan dapat
peningkatan di bi¬dang religius, terutama ber¬kenaan dengan peningkatan
kualias iman masyarakat, khususnya di lingkungan umat Katholik.
Diterbitkan di majalah MENJEMAAT edisi Desember 2014
MENJEMAAT : Majalah KOMSOS KAM
http://www.angelsiallagan.com/2016/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
http://www.angelsiallagan.com/2016/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
Peristiwa iman kedua; perayaan emas, pancawindu dan perak hidup membiara (50, 40 dan 25 tahun). Pada hari yang sama juga 10 Suster FCJM Indonesia merayakan pesta hidup membiara yang dibingkai dalam Perayaan Ekaristi dan resepsi di Propinsialat Suster FCJM, Viyata Yudha Pematangsiantar. Suster-suster yang merayakan 50 tahun hidup membiara adalah Sr. M. Andre Lemmers dan Sr. M. Adriana Mahulae. Suster-suster yang merayakan 40 tahun hidup membiara adalah Sr. M. Cornelia Silalahi dan Sr. M. Juliana Nainggolan. Sedangkan suster-suster yang merayakan 25 tahun hidup membiara adalah Sr. M. Monika Harianja, Sr. M. Klemensia Sitanggang, Sr. M. Yohana Simbolon, Sr. M. Stefania Gultom, Sr. M. Alexiana Tumanggor dan Sr. M. Valeriana Ndruru. Satu dari 10 saudari FCJM yang berpesta itu tidak bisa hadir dalam acara yang digelar tanggal 8 Desember dengan tema “Syukur kepada Allah atas karunia-Nya yang tak terkatakan itu”.
Dalam kotbahnya saat Perayaan Ekaristi, Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga, OFM mengatakan bahwa 10 orang yang merayakan pesta hidup membiara ini sesungguhnya adalah wujud kasih Tuhan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan rela meninggalkan orang tua dan keluarga yang dicintai. Hendaklah kamu menjadi gembala yang baik bagi sesama dan bagi dirimu sendiri. Para suster dipilih dan ditunjuk oleh Allah menjadi gembala yang baik. Tuhan senantiasa memiliki rancangan atas tujuan hidup manusia. Tinggal saja bagaimana cara dan strategi yang kita bangun untuk mengisi hidup kita agar hidup itu semakin bermakna, baik bagi Tuhan, sesama maupun diri sendiri. Mari kita bersyukur atas panggilan yang kita terima sendiri dari Allah, menerima anugerah atau rahmat Tuhan yang sungguh berlimpah dalam hidup kita. Hidup membiara perlu diisi dengan kebaikan dan kebajikan, serta berbagi suka cita dengan siapa saja sehingga kita dapat menikmati buah-buah kebaikan yang nyata dalam perbuatan kita.
Di dalam tema “Syukur kepada Allah atas karunia-Nya yang tak terkatakan itu”, terimplisit di dalamnya keyakinan bahwa kita tetap menjadikan Allah sebagai sumber dan puncak kehidupan manusia. Oleh karena itu, di atas segala-galanya, Tuhan adalah Yang Tertinggi. Yang Tertinggi itulah yang memberikan terang atau cahaya bagi manusia. Dengan demikian, kita memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah cahayaku, Tuhan adalah terangku, Dominus Illuminatio Mea. Semoga perayaan syukur atas kedua peristiwa iman dalam keluarga besar Kongregasi FCJM Indonesia ini menjadi sarana peningkatan iman dan saluran berkat serta menjadi moment panggilan untuk mengikuti Tuhan baik untuk umat maupun bagi keluarga besar suster-suster FCJM. Angela Siallagan
Pesta syukuran, pemberkatan dan peresmian Perguruan Assisi di Kota Batak patut dirayakan dengan meriah dan agung. Luapan rasa syukur ini menjadi bagian sejarah bagi Konggregasi FCJM secara khusus di bidang pendidikan dalam naungan Yayasan Puteri Hati Kudus (YPHK) di tingkat TK, SD, dan SMP . Pada umumnya, pengalaman hidup bahagia selalu diawali dengan usaha keras untuk mencapainya. Maka Sebagai bagian dari sejarah konggregasi FCJM, Perguruan Assisi di Kota Batak diawali pula dengan perjuangan cukup berat, yang akhirnya ketiga tingkat sekolah tersebut mendapatkan IMB dan izin operasional Sekolah setelah lima tahun beroperasi.
Selasa, 29 Oktober 2013 terdengar dentuman marching band yang dibawakan oleh siswa/i TK, SD, dan SMP Assisi Kota Batak menggelegar menyambut fajar pagi setelah melewati malam yang begitu pekat. Pesta yang semarak ini merupakan kerinduan terdalam yang diimpikan oleh anak didik, pendidik, dan tenaga kependidikan. Bapak Uskup Mgr. Martinus Situmorang OFM Cap., para Imam, para Suster FCJM utusan dari beberapa komunitas, para Suster dari beberapa Kongregasi sebagai undangan,seluruh keluarga besar TK, SD, SMP Assisi Kota batak, orangtua siswa-siswi, jajaran pemerintahan dinas Kabupaten Kampar dan umat yang hadir berbaur menjadi satu di depan panggung perayaan pesta syukuran atas pemberkatan dan peresmian Perguruan Assisi Kota Batak. Rasa syukur ini disatukan dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Padang Mgr. Martinus Situmorang OFM Cap., bersama konselebran RP. Harold Harianja OFM Cap., RP. Franco Qualizza SX., dan RP. Pancani SX. Selama perayaan Ekaristi berlangsung, paduan suara dari siswa/i SD dan SMP Assisi Kota Batak mengiringinya dengan penuh semangat.
Dalam kotbahnya, Mgr. Martinus mengajak semua umat yang hadir untuk bersyukur dengan segala suka duka, yang dialami selama proses pengurusan IMB dan Ijin operasional sekolah ini. Kita patut bersyukur karena dengan berbagai pengalaman itu, pada hari ini kita dapat bergembira bersama. Semuanya itu menjadi tanda bahwa Tuhan turut bekerja dalam karya , kita pantas bersyukur atas beban, kekurangan, bersyukur kalaupun ada hujan dan badai, bersyukur atas segala sesuatu yang merupakan bagian dari tugas perutusan sebagai kehormatan bagi kita. Dan kita mampu ambil bagian dalam karya penyelamatan dan penebusan humanisme. Karya pendidikan ini merupakan sarana bagi kita untuk memanusiakan manusia yang bermoral, berkepribadian kokoh, dan menjadi saudara/i bagi sesamanya. Pendidikan kita akan gagal total meskipun meraih olimpiade kalau anak-anak yang kita didik menjadi orang-orang yang egois dan tak mampu berkorban.
Semua undangan yang hadir pada saat itu, menikmati pertunjukan kreativitas siswa/i TK, SD, SMP Assisi Kota Batak yang menjadi kegiatan acara untuk memeriahkan pesta syukuran ini.
Dinamika memperjuangkan IMB dan Izin Operasional Sekolah
Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya setelah lima tahun sekolah TK, SD, dan SMP Assisi Kota Batak ini berdiri dan ber-operasi, pihak pemerintahan Kabupaten Kampar memberikan IMB dan Ijin operasional. Jika kita menoleh ke belakang, kita kembali diingatkan akan alasan mengapa sekolah ini didirikan oleh Yayasan Puteri Hati Kudus di bawah naungan Konggregasi FCJM, yang pada saat itu ketua YPHK adalah Sr. M. Vinsensia Simbolon, FCJM. Ada beberapa alasan mendirikan sekolah tersebut, yaitu :
1. Permintaan/keinginan masyarakat Kota Batak yang mendesak para Suster FCJM supaya membuka sekolah tingkat TK, SD, SMP.
2. Daya tampung siswa di Sekolah negeri yang ada di sekitar Kota Batak terbatas
3. Lokasi lahan pembangunan sekolah akan dibuka sekitar 5 km antara dua desa yang besar yaitu Kota Garo dan Petapahan.
4. Bahwa Konggregasi FCJM melalui perguruan Swasta Assisi mengambil peran untuk mencerdaskan anak bangsa melalui pelayanan di bidang pendidikan.
Berkat dukungan masyarakat, kepala dusun, kepala desa, Yayasan Puteri hati Kudus (YPHK) melaporkan kepada Camat, Kacab Dispora Petapahan, Kadispora Kampar bahwa akan membuka berkarya di Kota Batak dengan pelayanan di bidang pendidikan. Pengurus YPHK, para Suster yang berkarya di sekolah Assisi Kota Batak, masyarakat setempat yang mendukung karya ini berjuang keras tanpa henti-hentinya memohon kepada pihak pemerintahan yang ada di kabupaten Kampar untuk memberikan izin kepada suster-suster Kongregasi FCJM dalam menerbitkan IMB dan Izin operasional. Namun, pengurusan IMB dan ijin operasional di daerah Riau yang terkenal dengan sebutan serambi Mekkah Riau sangat sulit dan membutuhkan tekad dan cinta yang luar biasa. Selama lima tahun, Kita seperti menanti setitik gerimis di tanah yang tandus.
Perjuangan mendapatkan IMB dan ijin operasional sekolah merupakan konflik yang berat tetapi juga berharga. Hal ini merupakan masalah eksternal yang dihadapi sejak awal sekolah ini berdiri. Dimana banyak pihak yang menyampaikan keberatan dan penolakan atas pendirian sekolah ini, baik yang berasal dari sekolah-sekolah terdekat, penatua-penatua adat, ninik mamak, dan banyak pihak lain dengan berbagai alasan. Bahkan Dinas Dikpora sempat membuat surat resmi yang mengatakan bahwa sekolah ini harus ditutup.
Doa dan harapan didaraskan oleh para Suster, untuk kepentingan harapan mendapatkan IMB dan Ijin Operasional. “Namun, perjuangan tidak berhenti sampai disitu, sebagaimana Muder Maria Clara Pfander mengatakan bahwa “situasi yang keras menuntut tindakan yang keras pula”, dan "Matahari masih tetap di atas untuk menyinari kegelapan ini”.
Menunggu diterbitkannya IMB dan ijin Operasinal, maka sekolah mengambil kebijakan bahwa anak didik untuk sementara bergabung dengan sekolah negeri. TK bergabung ke TK Nusa Indah, SD bergabung ke SD Negeri 2 dan SMP bergabung ke SMP Negeri 4.
Menuai Hasil
Maka pada tanggal 06 Maret 2013, Pemerintah memberikan ijin operasional SD Assisi Kota Batak No. 421/KPTS/P dan – DIKNAS/2153 dan SMP Assisi Kota batak No. 421/KPTS/P dan K-DIKNAS/2152 dan IMB untuk sekolah TK, SD dan SMP Assisi Kota Batak No. 650/CKTR/IMB/93 tgl : 29 agustus 2013.
Seluruh anak didik, tenaga kependidikan, dan pendidik turut serta ambil bagian dalam rasa syukur yang disalurkan lewat penampilan bakat diantaranya ; marhing band, tarian, nyanyian, dan lain-lain.
Rasa optimis terpancar di wajah Ibu Eva Yuliana yaitu istri Bupati sekaligus ketua FORKI (Federasi Olah Raga Krate Indonesia) saat memotong pita pada pembukaan acara, dengan semangat beliau mengatakan: semoga sekolah ini berkembang dan melebarkan sayapnya dalam meningkatkan akal budi anak didik di daerah Kampar.
Menanggapi harapan masyarakat, ketua Yayasan Sr. M. Frederika Hasugian dalam sambutannya mengatakan bahwa hal itu sedang diupayakan ditindak lanjuti sehingga anak didik kita akan semakin berkembang dan kreativ. Upaya itu telah nyata kita lihat melalui peletakan batu pertama menambah sarana lapangan sepak bola untuk seluruh anak didik dan masyarakat setempat.
Sr. M. Cornelia Silalahi, FCJM sebagai Propinsial FCJM Indonesia, juga menyampaikan kata sambutan dengan mengajak seluruh keluarga besar perguruan Assisi yang ada di Kota Batak dan masyarakat setempat berharap, supaya sarana itu akan menambah kualitas dan kuantitas sekolah kita ini. . Kehadiran sekolah ini adalah sarana untuk mendidik anak menjadi cerdas, beriman, berkarakter, bermoral, berdisplin. Oleh karena itu, kami menyampaikan rasa terima kasih kami yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat dalam proses pengurusan IMB dan izin oprasional ini secara khusus kepada Sr. Vinsensia Simbolon, Sr. Clarentia Hasugian, Sr. Alberta Gultom FCJM, Sr. Albertine Situmorang FCJM, Sr. Frederika Hasugian, Bapak Nikolas Simanjuntak, S. H. M.H, Ardin Pane Sitorus, S.H, masyarakat sekitar, orangtua siswa, dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
“Kita berharap bahwa kelak anak-anak yang kita didik di sekolah ini menjadi pemangku jabatan di dalam Pemerintahan Negara. Maka marilah kita bersama-sama saling membantu dan kerja sama meningkatkan mutu pendidikan sekolah secara khusus di kabupaten Kampar. Maka, seperti yang dikatakan oleh Mgr. Martinus , “marilah kita bersyukur atas segala perjuangan yang pernah ada dan dalam rasa syukur, marilah kita semakin meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ini dan menjadi sarana peningkatan karya pelayanan dan cinta kasih kita”.
Satu hati, satu tekad, meraih cita dan cinta di kota Batak menjadi nyata. Mari kita melaksanakan karya pelayanan dengan penuh cinta kasih.
Malam itu sepi dan sunyi. Kupandang langit biru yang dihiasi oleh bintang-bintang. Kedipan bintang yang bercahaya indah itu mengingatkan aku akan kenangan masa lalu. Kenangan bersama dia yang telah jauh di sana. Wajah yang delapan tahun telah menghilang dari lubuk hatiku. Gemersik dedaunan pohon semakin jelas di telingaku, seakan melarang aku untuk mengingat masa itu. aku tersenyum sambil menghembuskan napas pangjang yang mengungkapkan bahwa peristiwa itu sungguh berat kuhadapi. Cepat-cepat wajah itu kusingkirkan dari pikiranku, tak ingin mengenangnya lebih lama. Aku dikejutkan suara seseorang yang menyapaku, ”belum tidur kakak? “sebentar lagi dek, masih ingin menikmati malam yang indah ini” jawabku sambil melempar senyum padanya. Akankah hidupku seindah langit yang dihiasi bintang-bintang itu? ah....semua telah diatur oleh Dia, bisikku perlahan tapi pasti.
Perjalanan panjang kulalui untuk meraih hidup dan hal itu membutuhkan perjuangan panjang, menghadapi tebing-tebing tinggi, duri-duri tajam dan jurang yang dalam. Namun aku mencoba untuk tetap berdiri dijalan-Nya mencoba berdamai dengan wajah itu. wajah yang selama ini menakutkan bagiku. Walau aku yakin bahwa Dia sudah mempunyai rencana yang indah dalam hidupku. Dalam doaku wajah itu selalu hadir, wajah itu juga yang selalu mengingatkanku untuk selalu percaya bahwa Dia akan selalu berkorban untukku. Wajah itu yang kadang memberikan aku semangat baru dikala aku mendaki tebing dan bukit yang tinggi. Dia yang setia mengulurkan tangan-Nya untuk menopang aku dari kejatuhanku. Tetapi mengapa wajah itu menakutkan bagiku? Ketakutan, kesedihan dan pertanyaan silih berganti menghantui aku malam itu. Bayang-bayang kesedihan menyusuri seluruh tubuhku, malam itu berlalu hanya dihiasai wajah itu dan angan-angan yang tanpa harapan.
Kubaringkan tubuh yang letih dan penat pada kasur tempat tidurku yang berukuran 2x3, pandanganku menerawang menembus dingding kamarku, berharap menemukan jawaban yang pasti mengapa wajah itu menakutkan bagiku sekarang ini dan sejenak kemudian aku tertidur tak sadarkan diri.
Suara indah yang dilantunkan oleh saudari-saudariku membuatku terbangun dan tersadar kala kini sudah pagi hari. Aku bergegas meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah semua selesai, aku berlari kecil menuju tempat yang biasa kami gunakan untuk mensyukuri pengalaman yang dirasakan. Dalam perjalanan menuju ruangan itu, aku mendengar seperti orang mengetuk, kupusatkan telinga ingin mengetahui dari mana arah suara itu sambil berjalan perlahan menuju tempat di mana suara itu berada. Suara itu berasal dari dalam sebuah pot bunga besar dan aku melihat seekor tikus kecil berusaha untuk melepaskan diri dari pot tersebut. Dalam hati aku tersenyum sambil berkata “mampus” tetapi saat mataku bertatapan dengan matanya, seolah-olah dia memelas meminta pertolongan padaku agar aku membebaskannya. Kulihat kepala dan wajah tikus yang penuh memer karena sepanjang malam terantuk pada pot bunga, berusaha untuk membebaskan diri. sejenak aku terdiam, wajah yang menakutkan penuh memar yang menakutkan itu seakan berpapasan dengan wajahku membuat terkejut. Rasa iba dan kasihan menyelimuti hatiku membuat aku ingin segera membebaskan tikus kecil itu. Malam ini aku dan tikus mengalami pengalaman yang hampir sama. Tikus ingin membebaskan diri dari pot bunga yang membuat ia tidak bebas melakukan aktivitasnya malam itu, sedangkan aku berusaha untuk menghilangkan wajah yang menakutkan itu dari ingatan dan pikiranku. Aku memandang ke alam sekitar, raja matahari mulai menampakkan diri, menunjukkan keperkasaannya bahwa dia mampu menerangi dunia ini. dia menerangi semua jagat dan makhluk tanpa ada perasaan takut kepada siapapun. Tidak seperti aku yang selalu takut bila wajah itu tiba-tiba hadir dalam angan-anganku. Andaikan aku matahari, apakah aku bisa menyinari semua orang yang aku benci seperti aku menyinari orang yang wajahnya menakutkan bagiku? Bisikku sambil menghela napas. Aku berjalan menyusuri jalan yang ditumbuhi pohon2 besar yang menambah sejuk dan indahnya hari itu. Derita hidup hilang kala kupandang laut ciptaan-Nya dan kebahagiaan kini mendatangiku. Terlihat lautan bebas dari sela-sela pepohonan, tenang dan begitu damai. Benarkah hatiku sedamai lautan samudera saat ini? kataku sambil berbisik berharap tak ada yang mendengarkan. Ah....biarlah semua tinggal kenangan. Ingin aku melihat wajah itu, berharap tidak akan bersedih lagi. Wajah yang menakutkan selama ini. aku mencari diantar pepohonan dan dingding-dingding bangunan megah itu, tapi tiada kutemukan. Aku menangis berlari berharap wajah itu belum pergi jauh dari tempat itu. Aku berhenti...melihat bangunan kecil mungil, aku mendekat perlahan-lahan, menyetuh dingding bangunan itu. aku mencari dimana pintu masuk ke dalam ruangan itu. Dengan hati-hati akhirnya aku menemukan pintu dan membuka perlahan-lahan agar tidak sampai ada orang yang mengetahui bahwa aku berada dalam bangunan indah itu. Aku terkejut, aku melihat seseorang berada dalam ruangan itu sambil kepala tertunduk. Kucoba mendekat. Ingin tau siapa gerangan orang itu. aku tidak dapat melihat wajahnya karena ditutupi rambut gondrong yang tidak rapi itu. siapa kamu dan mengapa kamu di sini? Tanyaku perlahan penuh rasa takut. Ini rumahku, jawabnya penuh kelembutan. Mengapa kamu sedih? Apa yang terjadi? Tambahku ingin tahu karena dia tidak mau menunjukkan wajahnya kepadaku. Dia mulai bercerita katanya, dulu aku punya seorang teman yang sangat dekat, sedihku adalah sedihnya, bahagianya adalah bahagiaku. aku sangat bahagia, jika dia ada disampingku, aku juga selalu setia bersamanya dalam suka dan pergumulannya mengarungi hidup ini. aku tidak tau, mengapa dia membenci aku, mengapa dia tidak mau melihat wajahku?. Mengapa dia selalu menjauh dari aku seakan dia tidak mengenal aku, karena itulah aku ingin menyendiri di sini dan berharap suatu saat nanti akan mencari aku ditempat ini. karena tempat ini adalah awal perjumpaan kami. Tempat ini adalah tempat kami berbagi cerita suka dan duka, tempat ini juga tempat dia menangis mengisahkan perjuangannya hidup bersama dengan saudari-saudarinya. Aku sudah capek mengikuti dia ke mana dia pergi, tetapi sepertinya dia tidak membutuhkan aku lagi. Sudah tiga bulan aku duduk dan menanti dia datang ke tempat ini. Setiap ada yang masuk, aku berharap dia yang datang. Tapi diantara wajah-wajah yang datang itu tak kutemukan sahabatku itu. Akupun menangis mendengar semua kisah sahabatku itu, aku menegakkan kepalanya, menyibakkan rambutnya yang menutupi wajahnya agar ia dapat melihat bahwa akulah sahabatnya yang telah hilang itu. Akulah yang selalu menjauh darinya, aku yang membencinya. Bukalah matamu, kataku hampir tak kedengaran. Mata dan wajah yang selama ini menakutkanku kini membuat aku damai dalam pelukannya, membuat aku bahagia. Membuat air mata kesedihan menjadi air mata kebahagiaan, membuat kesedihan menjadi kebahagiaan yang tak terkatakan. Kupandang bola matanya yang memancarkan sinar kebahagiaan, wajah yang sedih menjadi wajah penuh damai. Semangatku pulih kembali karena dia selalu ada dalam liku-liku hidupku. Canda dan tawa menghiasi kebersamaan kami dalam ruangan itu. Bersama dia adalah saat yang paling indah dalam hidup ini. kami berjanji bawa setiap hari kami akan bertemu selama 15 menit di Gedung mungil itu yang nama lainnya adalah Ruang Adorasi “Maria Tak Bernoda”.
Wajah itu tidak akan menakutkan lagi.......wajahnya membuat hatiku damai dan tenteram. Dia sahabat sejatiku namanya tak lain dan tak bukan YESUS.
By. Sr.M.Winanda Siregar FCJM
Sebuah perayaan yang diadakan di aula sekolah Assisi medan 11 april 2015, tepatnya hari sabtu. Perayaan yang didikuti TK, SD dan SMP. Suasana cuaca yang cerah dan sejuk mendukung semua acara paskah. Pagi hari yang sejuk itu diawali dengan ibadat untuk anak-anak TK dan SD kelas rendah yang dipimpin oleh Sr.Valeriana Ndruru kepala sekolah TK Assisi. Terdengar lantunan lagu-lagu paskah yang merdu dinyanyikan untuk mengisi ibadat. Ibadat diakhiri dengan menerima berkat dari Pastor Erwin simanullang Ofm Cap.
Tak terasa hari mulai siang namun sebelum perayaan ekaristi yang di ikuti seluruh siswa-siswa SMP dan Siswa-siswi SD kelas tinggi, kesempatan itu dipakai oleh anak-anak SMP mencari telur paskah dan menghias telor. Saat waktunya tiba untuk perayaan ekaristi seluruh anak didik dan para guru segera menuju aula untuk mengikuti perayaan ekristi. Perayaan mulia ini dipimpin oleh pastor Erwin Simanullang. Dalam kotbahnya pastor mau mengajak para siswa-siswi untuk tujuan dari sebuah cita-citanya. Sebuah cita-citanya bukan mendapatkan keuntungan semata atau berupa materi atau lajim disebut uang namun lebih pada makna yang lebih dari itu yaitu pelayanan.
Demikian juga untuk para guru dan pegawai diajak untuk menunjukkan pelayanan atau lebih melihat nilai luhur dari tugas sehari-hari sebagai tenaga pendidik disekolah. Perayaan ini berlangsung dengan agung dan meriah dengan semangat para orang-orang muda. Setelah perayaan ekaristi dilanjutkan dengan makan telor paskah dikelas masing-masing. Setelah para siswa diperkenankan pulang para guru dan pegawai makan bersama sebagai tanda kesatuan dan kasih persaudaraan sebagai satu keluarga di sekolah Assisi medan.
Sebuah semangat paskah atau kebangkitan tak hanya menjadi sebuah perayaan semata, namun terpatri sebuah harapan dalam setiap hati yakni mengalami kebangkitan yang berasal dari Yesus sendiri. Tak ada yang lebih membahagiakan saat kita menemukan keindahan dan kedamaian di sekitar kita dan lebih lagi didalam hati kita.
Karena kebangkitan Tuhanlah maka kini kita dapat merayakan Paskah, Tuhan meninggalkan kubur-Nya untuk bersatu dengan kita. Yesus meninggalkan kubur dan ingin masuk dalam hati kita agar kita dapat mengalami kasih-Nya yang tak terhingga. Saat ini tugas kita adalah membuka hati dan membiarkan yesus masuk kedalamnya sehingga kita mampu mewartakan kebangkitanya bagi siapa saja yang kita jumpai dalam hidup kita. SELAMAT PASKAH ALELUYA.
Tak terasa hari mulai siang namun sebelum perayaan ekaristi yang di ikuti seluruh siswa-siswa SMP dan Siswa-siswi SD kelas tinggi, kesempatan itu dipakai oleh anak-anak SMP mencari telur paskah dan menghias telor. Saat waktunya tiba untuk perayaan ekaristi seluruh anak didik dan para guru segera menuju aula untuk mengikuti perayaan ekristi. Perayaan mulia ini dipimpin oleh pastor Erwin Simanullang. Dalam kotbahnya pastor mau mengajak para siswa-siswi untuk tujuan dari sebuah cita-citanya. Sebuah cita-citanya bukan mendapatkan keuntungan semata atau berupa materi atau lajim disebut uang namun lebih pada makna yang lebih dari itu yaitu pelayanan.
Demikian juga untuk para guru dan pegawai diajak untuk menunjukkan pelayanan atau lebih melihat nilai luhur dari tugas sehari-hari sebagai tenaga pendidik disekolah. Perayaan ini berlangsung dengan agung dan meriah dengan semangat para orang-orang muda. Setelah perayaan ekaristi dilanjutkan dengan makan telor paskah dikelas masing-masing. Setelah para siswa diperkenankan pulang para guru dan pegawai makan bersama sebagai tanda kesatuan dan kasih persaudaraan sebagai satu keluarga di sekolah Assisi medan.
Sebuah semangat paskah atau kebangkitan tak hanya menjadi sebuah perayaan semata, namun terpatri sebuah harapan dalam setiap hati yakni mengalami kebangkitan yang berasal dari Yesus sendiri. Tak ada yang lebih membahagiakan saat kita menemukan keindahan dan kedamaian di sekitar kita dan lebih lagi didalam hati kita.
Karena kebangkitan Tuhanlah maka kini kita dapat merayakan Paskah, Tuhan meninggalkan kubur-Nya untuk bersatu dengan kita. Yesus meninggalkan kubur dan ingin masuk dalam hati kita agar kita dapat mengalami kasih-Nya yang tak terhingga. Saat ini tugas kita adalah membuka hati dan membiarkan yesus masuk kedalamnya sehingga kita mampu mewartakan kebangkitanya bagi siapa saja yang kita jumpai dalam hidup kita. SELAMAT PASKAH ALELUYA.








