Pada tanggal 04 Februari 2015, tepat pada pukul 20.45 Wib,  Suasana komunitas Suster FCJM “Monteluco” tidak seperti hari-hari sebelumnya. Bunga mawar yang indah digenggam dan barisanpun diatur untuk menyambut tamu agung dari Paderborn yakni Bapak Uskup Paderborn, Pastor Peter, Pastor Gregor Tuszynski, Sr. Angela Benoit, Bapak Ulrich Klauke, Bapak Gregor Dolle, Meryam Klauke dan Magdalena Birkle. Kehadiran mereka memberi warna baru dan indah, tawa dan senyum bahagia. Siapa yang menyangka, Uskup Paderborn akan hadir di Indonesia secara khusus di tengah-tengah para suster FCJM. Perasaan  kagum, bahagia dan senang bercampur menjadi satu sehingga memberi suasana yang indah bagaikan pelangi sehabis hujan, karena kunjungan ini menjadi pembawa berkat bagi kami.
Ternyata, manusia yang ada di dunia ini dapat dipersatukan oleh cinta walau jarak yang begitu jauh. Seperti kata seorang suster yang paling muda, saya tidak menyangka kalau saya bisa bertemu dengan Bapak Uskup dan rombongan dari Paderborn, itu semua karena Tuhan yang memulai. Kedatangan Rombongan kami sambut dengan memberikan Bunga mawar yang kuncup dan berharap bunga Mawar tersebut akan  mekar berseri seperti suasana malam itu. Tamu diarak masuk ke Ruang Makan dengan tortor batak. Walaupun suasana malam hari terasa gelap tapi saat itu matahari seakan bersinar menerangi kami untuk menyambut kedatangan Bapak Uskup  dengan rombongan dari paderborn.

Perasaan kagum, bahagia, gembira semakin berkobar-kobar, ketika mendengar Bapak Uskup berbicara meminta agar selesai acara penyambutan ini, mereka akan ke kapel untuk mengadakan Perayaan Ekaristi. Bapak Uskup tidak meminta untuk makan dan istirahat tetapi berdoa. Cinta kepada Tuhan mengalahkan rasa lapar, lelah dan haus. Mereka tidak lapar makanan duniawi tetapi mereka lapar akan sabda Tuhan. Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup dan dua imam konselebran. Misa dirayakan dengan bahasa Jerman.
Seusai Perayaan Ekaristi, waktu menunjukkan pukul 22.20, para suster dan rombongan Bapak Uskup menuju Ruang makan untuk santap malam. Suasana kembali ramai diiringi tawa dan senyum yang tak dapat dibahasakan.

Tanggal 05 Februari 2015, Rombongan bapak Uskup dan Sr. Cornelia Silalahi sebagai Propinsial membawa rombongan untuk keliling kebeberapa tempat di Pematangsiantar,  diantaranya: TK dan SD Tiga Dolok, R.S. Harapan, Nagahuta, Harapan Jaya, SMK, SMA, SMP Jl. Asahan,  Bina Samadi, Novisiat FCJM dan Panti, Binasamadi dll. 

Malam hari sebelum keberangkatan rombongan bapak Uskup, para Suster dan Postulan mencoba menampilkan bakat dan talenta dengan menari dan menyanyi untuk menghibur rombongan Bapak Uskup. Semua ingin memberi yang terbaik dan semua karena cinta.  Kedipan kamera maupun HP mulai kelihatan menambah semaraknya acara malam itu, menjadikan pertemuan dan perjumpaan ini menjadi kenangan yang terindah dan tak terlupakan.

Sungguh, pengalaman ini menjadi pengalaman yang berharga bagi kongregasi FCJM, secara khusus bagi para suster yang tinggal di Rumah Pusat. Perjumpaan ini memberi semangat baru untuk menjalani panggilan Tuhan karena kunjungan ini seperti kunjungan Bunda Maria kepada Elisabet saudarinya.

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, saatnya rombongan bapak Uskup akan melanjutkan perjalanan. Ingin rasanya pengalaman ini terulang kembali. Terimakasih kepada Bapak Uskup dan rombongan atas kunjungan yang membahagiakan ini. Kami tetap menantikan kehadiran Bapak uskup, Pastor, Suster dan saudari-saudara dihari-hari yang akan datang.

Refleksi;

Jika kunjungan Bapak uskup dan Rombongan dari Paderborn membawa kebahagiaan dan semangat baru kepada kita (suster-suster FCJM), bagaimana dengan kunjungan kita kepada orang lain? Apakah membawa kebahagiaan dan semangat baru bagi orang lain atau sebaliknya?. Mari melihat pengalaman kita dan memperbaharui diri demi kebahagiaan kita dan sesama serta bagi kemuliaan Tuhan.


Alunan melodi syahdu tergiang di telingaku, kucoba pejamkan mataku dalam kesunyian malam tak kunjung lelap. Arloji di tanganku sudah menunjukkan pada pukul 23.59 Wib. Aku berpaling dan memandang langit-langit kamarku, bayangan dua bulan silam kembali mengisi relung hatiku.
Kisah yang menakutkan itu membuatku kehilangan sebagian dari diriku. Kisah yang membuatku tak mampu lagi menegakkan kepalaku. Kuambil sejumlah album untuk mengisi malamku, foto yang penuh dengan pancaran senyuman murni dan tulus ketika mengenakan seragam sekolah. Aku terdiam dimana senyumku dulu bisik hatiku. Tiba-tiba saja air mataku membasahi wajahku selekas kisah itu terekam kembali dalam benakku, hingga akhirnya aku terlelap sampai pagi.
Sinar mentari seakan mengerti kekalutan hatiku, menyinari dan seolah mengajakku berjalan pada sebuah taman yang kutinggalkan pada enam tahun yang lalu. Seakan mau mengisahkan sebuah kehangatan cinta Ilahi di awal aku mengenal jubah putih. Aku mulai berkisah pada daun hijau disekelilingku. Aku tak menyangka masih sanggup berdiri di atas tanah yang telah kutinggalkan enam tahun lalu dengan jubah putihku. Enam tahun yang tak mudah kulalui, aku sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak tahu berujung di mana.
Aku dihantar pada sebuah kenyataan yang tak mudah aku terima, jalan penuh liku, orang-orang yang sulit kupahami dan juga tangan-tangan halus yang menyeka air mataku. Seakan semuanya itu membuatku tidak mengerti jalan yang telah kupilih, hingga saat yang menyedihkan itu kuputuskan untuk pergi selamanya dari gedung-gedung kebingungan itu dan pergi berteriak pada sebuah hutan luas melepas semua bebanku.
Tetapi tangan-tangan halus itu datang dan menyeka air mataku, memberikan kompas. Kompas yang utuh dan aku berharap kompas itu mampu menunjukkan segala arah yang kupilih dan memudahkan semua perjalananku. Ternyata tidak. Ditengah lautan saat perjalanan panjang kompasku hilang ditelah badai, kompas yang kugenggam, kupeluk dan tak ingin kulepas yang namanya agung dan kusebut Yesus.
Kami terlepas oleh ombak dasyat, ombak keegoisanku yang tak ingin lagi menangis dan bingung dalam setiap jalan yang kupilih. Entah aku yang salah atau Tuhanku sedang menguji akupun tak tahu.
Aku dihadapkan pada pilihan yang tak mudah memilih untuk meneruskan perjalanan atau berhenti karena ombak yang besar itu. Maka dengan harapan yang masih tersisa kuputuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Namun dalam perjalanan itu bukan hanya ombak tetapi mulai marasa bahwa perahu yang aku tumpangi sedang rusak. Aku mulai bertanya-tanya siapa yang membuat perahuku rusak, aku mulai menjerit ketakutan, aku berfikir segalanya akan berakhir. Kucari kembali kompas, kutunggu datangnya tangan-tangan halus alisa tangan-tangan malaikat untuk menolongku. Tetapi sungguh menyedihkan tangan-tangan halus tak mendengar suaraku. Yang muncul dihadapanku adalah batu karang yang menabrak perahuku dan melemparkan aku ke tengah badai, sehingga tak ada harapan akan selamat sampai tujuan.
Aku telah membayangkan sebuah akhir kehidupanku tanpa sipemilik tangan-tangan halus yang kumiliki selama perjalananku, yang telah memampukanku untuk terus melaju kearah yang akan kutuju. Aku membayangkan bahwa batu karang lautan, hewan-hewan buas di lautan ini akan mengakhiri seluruh perjalananku. Kubersimpuh tak berdaya, kulepas semua anganku tentang cita dan harapku tuk meraih mimpiku.
Suatu kejutan halus itu telah menopang perahuku dan membawakan kompasku yang hilang, aku hampir tak percaya akan semua yang terjadi, walau semua tangan-tangan halus itu atau malaikat-malaikat kecil itu sudah dihadapanku, ombak pun mulai menghindar tetapi masih kuurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan. Terbayang ketakutan akan bahaya ditengah lautan. Aku menyuruh sipemilik tangan-tangan halus itu pergi meninggalkanku sendirian, tetapi bujuk rayunya yang menyentuh hati membuatku tak berdaya untuk berpisah, sembari kumohon agar tetap bersamaku. Aku mencoba untuk menjadikan semuanya itu pedoman hidup, kupeluk kompasku erat-erat dan kini aku hampir tiba pada tujuanku, yaitu sebuah kesetiaan akan Sang Pemilik Kehidupanku, Sang Penunjuk arah dan jalanku.
Kini ia menunjukkan padaku sesuatu yang telah hilang dalam perjalanan yang kulalui, sesuatu itu sangat berharga yang pernah aku miliki. Di tempat aku berdiri kini kutemukan kembali segalanya kompasku.....YESUS....yang tak pernah meninggalkanku.



Sr.M.Alexandra Silitonga FCJM
Tak terbiasa aku hidup tanpamu
Sepi rasanya dunia ini tanpa hadirmu
Termenung sendiri mengingat canda tawamu
Mengingat semua keluh kesahmu.

Tak ada kata lain selain rindu untukmu
Merindumu adalah makanan sehari-hariku
Menangis kala ku ingat senyum manismu
Sedih rasanya hati ini mengingat tingkah lakuku.

Disini aku kan selalu berdoa untukmu
Berdoa supaya engkau ada disisi-Nya
Ditempat yang paling indah di sana
Bersema semua malaikat Tuhan.

Ku mencintaimu ibu
Selalu mencintaimu
Tersimpan kokoh dalam hati
Tak akan pernah terganti dalam hidupku.


Bicara ...................
...pada saat yang tepat  adalah pilihan yang tepat
...di depan  musuh adalah kesopanan
...pada waktunya adalah tepat
...Di depan ketidakadilan  adalah suatu kebencian

Diam ……………    
...tentang kekurangan sesame adalah cinta kasih
...pada waktunya kebijaksanaan
...tentang diri sendiri adalah kerendahan hati
...terhadap kata-kata tidak berarti  adalah keutamaan

Bicara…………
...untuk membela adalah cinta kasih
...dihadapan suatu penderitaan adalah menghibur
...untuk membantu orang lain
...dengan terus terang adalah kejujuran

Diam………….
...waktu dituduh adalah kepahlawan
...waktu dicaci maki adalah cinta kasih
...akan penderitaan sendiri adalah pengurbanan
...dalam penderitaan adalah silih dosa

Bicara…………
...tentang diri sendiri adalah kesia-siaan
...menerangkan gosip adalah kebodohan
...menghilangkan kepalsuan adalah kesadaran
...memulihkan nama baik adalah kejujuran
Diam…………..
...waktu disakiti adalah kesucian
...untuk melinduging adalah kepahlawan
...akan kelemahan orang lain adalah kebaikan
...waktu harus bicara adalah sikap pengecut

Bicara……….
...asal bicara adalah kebodohan
...waktu harus diam adalah omong kosong
...tentang kekurangan orang lain adalah menyakiti
...tentang Tuhan adalah cinta kasih yang besar






Hari ini, empat puluh tahun sudah kualami
Bersamamu, Putri Hati Kudus Yesus dan Maria dalam hidup membiara
Kupersembahkan diriku, untuk menyatu dengan-Mu
Kuikrarkan kaulku untuk menggali sukacita dan kehidupan kekal

Hari demi hari, siang berganti malam
Kujalani jalan setapak ditengah kesunyian
Kulalui bersama-Mu Tuhan
Kurasakan sukacita, cobaan, kejenuhan
Dan ada muzijat dalam perjalanan hidupku.

Terimkasih buat seluruh keluargaku
Buat sahabat dan saudara-saudariku
Buat semua yang telah mendukungku
Untuk tetap kuat dalam menjalani panggilanku.

Aku bersyukur, bahwa aku ikut merayakan pesta hari ini
Aku bangga, bahwa Tuhan menuntun langkahku
Aku gembir dan yakin, bahwa aku tetap mengikuti Engkau
Dan aku setia untuk selama-lamanya.

Sepuluh anggota Suster FCJM Indonesia merayakan pesta hidup membiara dalam Misa dan resepsi di Propinsialat Suster FCJM, Viyata Yudha Pematangsiantar.

Yang merayakan 50 tahun membiara adalah Sr. M. Andre Lemmers, Sr. M. Adriana Mahulae  yang 40 tahun membiara adalah Sr.M. Cornelia Silalahi, Sr.M. Juliana Nainggolan yang 25 tahun hidup membiara adalah Sr. M. Monika Harianja, Sr.M. Klemensia Sitanggang, Sr. M. Yohana Simbolon, Sr.M. Stefania Gultom, Sr.M. Alexiana Tumanggor, Sr.M. Valeriana Ndruru.

Satu dari 10 saudari FCJM yang berpesta itu tidak bisa hadir dalam acara yang digelar tanggal 8 Desember dengan tema “Syukur kepada Allah atas karuniaNya yang tak terkatakan itu”.

Dalam kotbahnya, Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga, mengatakan bahwa 10 orang yang merayakan pesta hidup membiara ini sesungguhnya adalah wujud kasih Tuhan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan rela meninggalkan orang tua dan keluarga yang dicintai. Hendaklah kamu menjadi gembala yang baik bagi sesama dan bagi dirimu sendiri.Para suster dipilih dan ditunjuk oleh Allah menjadi gembala yang baik.Tuhan pasti merancang maksud dan tujuan hidup dan bagaimana mengisi hidup agar semakin bermakna. Mari kita bersyukur atas panggilan yang kita terima sendiri dari Allah, menerima anugerah atau rahmat Tuhan yang sungguh berlimpah dalam hidup kita. Hidup membiara perlu diisi dengan kebaikan dan kebajikan, serta membagi suka cita mendalam kepada siapa saja sehingga kita dapat menikmati buah-buah dan perbuatan kita.

Perayaan syukur ini turut hadir Uskup Agung Medan dan Uskup Emeritus, serta 24 orang Imam. Selesai perayaan ekaristi dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan hiburan. (Sr. Winanda)
Pada hari Selasa tanggal 09 Desember 2014, Bank Mandiri menyerahkan bantuan berupa bangunan (material) senilai Rp. 99 juta kepada  Suster-Suster FCJM “Monteluco” di Jl. Viyata Yudha – Pematangsiantar.

Bantuan ini diberikan oleh PT. Bank Mandiri untuk Pembangunan Ruang Adorasi "Santa Maria Tak Bernoda", guna meningkatkan kualitas iman para suster FCJM dan umat. Bapak Soloan Siringoringo sebagai manager area menyerahkan bantuan tersebut  kepada Sr. M. Cornelia Silalahi selaku pimpinan Kongregasi yang disaksikan oleh anggota dewan dan para suster lainnya.

Sementara itu Sr. M. Cornelia mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan yang diterima para suster FCJM untuk pembangunan Ruang Adorasi dan diharapkan tempat doa ini sungguh menjadi sumber kekuatan rohani.