(Refleksi Weekend Kaul Kekal Balita FCJM)
Merupakan tema dalam weekend tahun 2015 ini bagi para suster FCJM yang sudah berkaul kekal 1–5 tahun, yang dilaksanakan pada tanggal 19 – 20 Februari 2015 di Sinaksak dan ditutup dengan piknik rohani di Parapat-Samosir.
Hal ini senada dengan seruan Paus Fransiskus yang telah mengumumkan bahwa tahun 2015 akan didedikasikan sebagai Tahun Hidup Bakti (Year of Consecrated Life). Untuk mengisi Tahun Hidup Bakti tersebut, Kongregasi FCJM memberikan kesempatan bagi setiap suster untuk semakin mendalami kesetiaan pilihan hidupnya kepada Allah dengan cara mengadakan weekend.
Gelombang pertama dalam weekend ini diikuti oleh 21 orang suster “balita” FCJM yang dipimpin oleh P. Gonzales Nadeak OFM Cap. Apakah para suster FCJM yang sudah kaul kekal balita mampu menghidupi pilihan hidupnya dengan “berjiwa merdeka”? Apakah panggilan sebagai seorang suster FCJM masih tetap bulat? Dan apakah mampu bahagia dalam menghidupi panggilan sebagai seorang FCJM?
Tulisan ini merupakan refleksi atas pengalaman dalam menghidupi panggilan hidup sebagai seorang suster berkaul kekal dengan berpredikat balita (tiga tahun) dalam Kongregasi FCJM.
Terpanggil Menjadi Laskar FCJM
“Jadi Suster? Nggak ah…!!” Jawaban spontan ini sering terdengar dari sekian banyak anak asrama putri St. Clara – Jl. Asahan, Siantar saat saya coba tanya satu per satu. Menjadi seorang suster bukanlah cita-cita favorit mereka. Mereka lebih dominan memilih cita-cita yang lebih tinggi seperti menjadi dokter, polisi wanita (polwan), pengusaha, bidan. Jarang juga terdengar di zaman ini orang tua yang mengarahkan dan membimbing anaknya untuk kelak menjadi kaum religius baik imam maupun suster.
Menoleh motivasi awal sebagai seorang suster, barangkali menjadi salah satu faktor penting bagi seorang religius karena dari motivasi awal tersebut dilihat gerak Allah memanggil setiap pribadi menjadi orang “pilihan” Allah dalam menebar kebaikan dan kerajaan Allah. Motivasi awal tersebut berkembang menjadi suatu ikatan akan panggilan Allah untuk mengikrarkan janji seumur hidup dalam “ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian”. Yang menjadi pertanyaan refleksi adalah apakah saya bahagia dalam menghidupi tiga kaul dalam hidup membiara tersebut?
Apakah Panggilanku Masih Bulat?
Panggilan Allah adalah suatu misteri yang tak dapat ditangkap oleh akal budi manusia. Tak ada orang yang dapat menebaknya. Bahkan seringkali panggilan Allah itu dirasa aneh dan unik. Sesuatu yang tak mungkin bagi manusia, mengingat kenyataan yang terjadi bahwa kaum biarawan/ti yang terpanggil bukanlah dipanggil karena kesempurnaaan dan kemampuan dalam hal bakat dan kepribadian tetapi dipanggil dari segala jenis ketidaksempurnaan sifat dan kepribadian. Namun, Allah menyempurnakan mereka sehingga mampu menjadi alat-Nya dalam melanjutkan karya Kristus sebagai pewarta cinta kasih di dunia ini.
Salah satu buku yang sangat favorit dalam Kongregasi FCJM adalah buku ”Cahaya di dalam kegelapan”. Buku ini berisi perjuangan pendiri Kongregasi FCJM yaitu Muder Maria Clara Pfander sejak masa kecil hingga menghadapi ajalnya. Buku yang menarik ini dikarang oleh ”M. Aristilde Flake” yang menjadi inspirasi dalam melanjutkan visi dan misi Kongregasi di dunia ini. Perjuangan berat yang dialami pendiri tidak menggoyahkan panggilan Tuhan dalam dirinya.
Kegemarannya dalam melanjutkan cinta kasih semakin berkobar kala kesulitan menimpa diri dan Kongregasinya. Untuk hal ini, dia mengungkapkan ”Kita harus bersedia untuk hidup, berdoa, dan berkurban bagi Gereja” (Cahaya di dalam kegelapan, 1981:68). Itulah sebabnya panggilan Allah tetap bulat dalam diri dan hidupnya apapun situasi yang dialaminya.
Menarik bila mengenang kembali motivasi awal pendiri Kongregasi ini. Kemerdekaan jiwanya tidak pernah terhalang oleh berbagai macam kesulitan dalam karya dan persaudaraan.
Bertanyalah aku dalam hatiku, apakah dengan perkembangan zaman ini membuat panggilan Allah senantiasa bulat dalam hatiku? Pertanyaan ini menjadi tantangan besar. Disamping itu menuntut jawaban tegas. Konsekuensinya adalah, bila memang tidak bulat…mengapa masih bertahan? Apakah tidak sebaiknya ditinggalkan saja?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang serius dan sungguh-sungguh untuk direfleksikan. Kita mengakui bahwa kadangkala sebagai religius yang dipanggil dan di pilih oleh Tuhan, kerap mengalami kegelapan dan kebimbangan dalam menapaki panggilan hidup itu. Namun, kaum religius di harapkan mampu kuat dan tangguh mengahdapi kesulitan itu dan berharap bahwa setelah kegelapan di malam yang pekat itu akan berganti dengan matahari yang menyinari kegelapan tersebut, seperti yang dikatakan oleh Muder Maria Clara Pfander, pendiri Kongregasi FCJM mengatakan :”O, anakku, engkau tidak mengertinya. Itulah misteri Penyelenggaraan Ilahi, yang menuntun kita seturut kehendak-Nya, walaupun kita tidak memahaminya. Kita hanya harus bertekun dan tidak goyah oleh lemparan batu. Matahari masih tetap di atas dan akan menyinarkan kembali cahaya di dalam kegelapan ini” (Cahaya di dalam kegelapan, 1981:84).
Hidup Religius : Bahagia atau Tertekan?
Nasehat Rasul Paulus bagi kaum religius yakni “Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya” (1 Kor 7:32). Dari segi kepraktisan, kita dapat melihat bahwa dengan tidak menikah maka seorang religius atau biarawan/ti dapat mencurahkan segenap hati, jiwa, dan pikirannya untuk melayani Tuhan dan sesama. Pendeknya, dengan hidup selibat, kaum religius hanya memikirkan apa yang terbaik bagi Tuhan dan umat yang dipercayakan kepadanya lewat kesaksian hidup dan karyanya. Maka diharapkan kaum religius dapat menjalankan karya pelayanan mulia Allah itu dalam kebahagiaan bukan karena terpaksa dan terkesan tertekan.
Memang diakui bahwa akan banyak kesulitan dan tantangan yang berasal dari dalam dan luar dirinya yang sering menghambat kelancaran karya pelayanannya, namun mereka juga harus percaya dalam iman bahwa Allah senantiasa menyediakan rahmat bagi mereka khususnya bagi pewartaan kerajaan Allah di dunia ini.
Tidak dapat dipungkiri bahwa di zaman modern ini, hidup menjadi seorang religius nampaknya menjadi semakin sulit. Hal ini disebabkan karena kaum religius dituntut untuk melawan arus dunia yang bergelimang ketenaran dan kebebasan ini. Saat dunia menawarkan kekayaan, kaum religius dituntut untuk menghidupi kaul kemiskinan. Saat dunia menawarkan kekuasaan dan jabatan, kaum religius dituntun untuk taat pada pimpinan tarekat/ordo. Saat dunia menawarkan kebebasan, kaum religius dituntut untuk menghidupi kaul kemurnian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang terpilih dan terpanggil membatasi dirinya dalam segala kenikmatan dunia ini sementara mereka tinggal ditengah dunia yang terus maju dan berkembang ini.
Kenyataan ini sering menjadi pengahalang kebahagiaan kaum religius dalam menghidupi panggilan Tuhan karena sebagai manusia lemah tentu tidak luput dari kelemahan yang seringkali membentengi rahmat Allah menguasai dirinya. Hal ini sering menjadi kesulitan dalam persaudaraan kaum religius laki-laki ataupun wanita. Imam maupun suster. Tidak dapat dipungkiri bahwa sifat awam dalam dunia kerja sebagai atasan yang menganggap rendah bawahannya, terjadi juga didalam karya pelayanan kaum berjubah. Senior sering terdengar kurang memberi teladan yang baik bagi junior, tetapi malah sebaliknya. Karya pelayanan bukan menjadi ladang cinta kasih tetapi menjadi ladang kekuasaan dan harta karun terbesar untuk membuktikan kesombongan dan mencari nama.
Itulah sebabnya, saat mengadakan weekend pada tanggal 19 – 21 Februari 2015, ini menjadi refleksi bagi kami para suster FCJM kaul kekal balita 1 – 5 tahun yang hadir di Sinaksak. Satu kalimat penting yang disampaikan oleh P. Gonzales Nadean, OFM.Cap saat memberi konfrensi adalah : “hanya orang yang bahagia mampu membahagiakan orang lain”. Ini menjadi kalimat penting dan menarik karena memang cukup logis, orang yang bahagia senantiasa membagikan kebahagiaan kepada yang lain, dan sebaliknya orang yang tertekan akan menjamurkan tekanan kepada yang lain. Yang penting adalah, apa usaha yang kulakukan supaya aku bahagia, komunitasku bahagia dan orang-orang yang kulayani bahagia dalam Tuhan?
Pergilah Ke Mana Hatimu Membawamu
“Agunglah yang kita janjikan….namun, lebih agunglah yang dijanjikan pada kita….” Demikian penggalan lirik lagu yang dikarang oleh P. Christian Lumbagaol OFM.Cap dan P. Julius Lingga OFM.Cap dalam album Kapusin vol.2. Merupakan kalimat yang mengungkapkan keagungan kesetiaan kaum religius dalam menapaki panggilannya, namun kesetiaan itu terjadi saat Allah setia dalam mendampingi kita dalam rahmat-Nya. Curahan rahmat Allah dalam hati kaum berjubah membawanya pada kesetiaannya sampai garis finish dan titik darah penghabisan.
Menjadi penting bahwa kaum religius mampu berjiwa merdeka dalam menghidupi pilihannya, dengan demikian mampu mengalami sukacita injili. Saatnya bertanya pada hatiku dengan bebas dan jujur : apakah aku sudah berjiwa merdeka?
Tantangan pada zaman ini belumlah seberapa dengan tantangan yang masih terbentang di depan mata mengingat bahwa zaman semakin berkembang keinginan untuk hidup bebas tanpa diikat oleh aturan komunitas dan kongregasi semakin luas kemungkinannya. Kemungkinan yang ada seluas segala kenyataan. Banyak orang berkata bahwa pilihan untuk menjalani hidup selibat itu “berat” dan “tidak menyenangkan”, bagaimana pendapat anda dengan pernyataan ini?. Situasi hidup di dunia ini akan selalu mengalami dua hal, yaitu yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan.
Saya mengalami bahwa hidup panggilan sebagai seorang selibater tidaklah sesuatu yang memberatkan, tetapi pilihan bebas dan membahagiakan. Karena dalam hidup membiara terbuka sejuta kesempatan untuk meningktkan kualitas kepribadian dan kemampuan. Kesempatan untuk mengembangkan diri dan bakat yang dimiliki. Dalam hidup membiara itu juga menjadi lahan yang luas dalam menerapkan cinta kasih. Dan satu hal yang penting adalah dalam hidup membiara kesempatan untuk mengembangkan dan membagikan kegemaran satu dengan yang lain karena perbedaaan kemampuan setiap pribadi. Prinsip utama yang menurut saya harus dipegang oleh setiap orang yang tertarik dengan panggilan hidup selibat adalah SIAP menjadi pelayan di kebun anggur-Nya. Dengan demikian kaum selibat mampu berjiwa merdeka dalam mengembangkan sayap sebagai laskar Kristus tanpa harus tertekan dan murung dalam karya pelayanan kepada Allah dan sesama tetapi tetap mampu berjiwa merdeka menghidupi pilihan hidup agar mampu mengalami sukacita injili.
Kredit Foto: Suster-Suster FCJM, ilustrasi dari Sr. Angela, FCJM
Panggilan adalah suatu misteri. Panggilan berarti mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya. Upahnya tidak seberapa, tetapi ganjarannya sungguh luar biasa. Panggilan seseorang dapat tumbuh dan berkembang, bila seseorang hidup bersama orang-orang yang mempunyai visi dan misi yang sama. Oleh karena itu setiap orang harus Berjiwa Merdeka (Berjiwa Bebas) dalam menjalani dan mengarungi panggilan Tuhan sehingga mengalami sukacita injil. Berjiwa Merdeka menghidupi panggilan merupakan tema yang harus dihidupi oleh Lembaga Hidup Bakti karena tahun ini Paus Fransiskus telah mengumumkan bahwa tahun 2015 akan didedikasikan sebagai Tahun Hidup Bakti (Year of Consecrated Life). Untuk mengisi Tahun Hidup Bakti tersebut, Kongregasi FCJM memberikan kesempatan bagi setiap suster untuk semakin mendalami kesetiaan pilihan hidupnya kepada Allah dengan cara mengadakan weekend.
Maka pada tanggal 19-21 Februari 2015, telah diadakan Weekend/pertemuan untuk para BALITA KAKEL suster-suster FCJM dengan nara sumber P. Gonzales Nadeak OFMCap. Pertanyaan pertama yang mengugah dan menyentuh adalah Apakah para suster FCJM sudah Berjiwa Merdeka dalam menghidupi Pilihan? Apakah panggilan menjadi seorang suster masih tetap bulat atau....? Apakah para suster FCJM yang sudah berkaul kekal satu sampai lima tahun sudah dapat melaksanakan tugas dengan berjiwa merdeka?
Hidup Religius: Dikasihi atau Dibenci?
Sudah menjadi rahasia umum bahwa semua Kongregasi religious sedang mengalami masa-masa yang sulit. Dunia berubah, tentu penghuni dunia juga ikut berubah dan kita semua juga berubah. Dunia DAN kaum religius tertidur, maka dengan ini Tim LHB KAM membuat thema LHB untuk tahun ini “Bangunkan Dunia!” hal Ini tidak bisa dielakkan karena para religius tidak hidup di luar dunia. Di tengah gegap gempita tawaran-tawaran dunia modern, membawa kaum religius jauh dari hidup yang sebenarnya. Kaum religus sangat gampang meninggalkan panggilan, orientasi dan bahkan tidak tahu lagi apa dan bagaimana menghidupi kebenaran yang telah dihidupi oleh para pendahulu. Masalah-masalah kekuasaan, kemiskinan, keadilan, kekerasan, individualisme, konsumerisme, pemuasan diri secara egois, seksualitas merambat ke lembaga-lembaga hidup bakti.
Dalam dunia yang tertidur ini, para religius ditantang untuk mendalami panggilan hidupnya sehingga mampu menjadi religius yang setia dalam kongregasi/ordo. Hal yang dahulu dilakukan oleh para religius kini dapat dilakukan oleh kaum awam, lalu mengapa aku harus menjadi religius? Mengapa aku mau tetap religius sampai saat ini? Jika tujuan hidup tidak jelas lagi, maka cita-cita dan semangat juga akan menurun, hidup kita akan dilalui dengan rasa kecewa, frustrasi, dan kehilangan maknanya. Kita sendiri dan kaum awampun ingin tahu apa arti dan tujuan hidup religius dalam masyarakat pada jaman sekarang ini. Tak jarang kita mendengar ungkapan dari biarawan/biarawati “Doakan saya ya bu/pak, supaya tetap bertahan”, ungkapan ini menandakan/menunjukkan bahwa hidup menjadi seorang religius itu berat dan sakit, siap dibenci dan dikasihi. Masyarakat umum memandang kaul religius sebagai orang yang sempurna dan kudus. Benarkah demikian?. Tidak dapat dipungkiri semakin kita berbuat baik akan semakin banyak kesulitan dan tantangan yang akan ditawarkan kepada kita baik dari luar, persaudaraan dan karya kita dan tentu hal ini akan menjadi salah satu penghalang mewujudkan misi kita di dunia ini. Namun kita harus percaya bahwa Allah senantiasa menyediakan rahmat bagi mereka khususnya bagi pewartaan kerajaan Allah di dunia ini. Untuk kembali ke habitat pilihanku, harus melihat kembali motivasi awal menjadi seorang religius. Yang menjadi pertanyaan, Apakah saya bahagia di habitat pilihanku?. Beranikan kita mengatakan kepada saudari/saudara kita “Stay with me/us forever”.
Kongregasi FCJM menjadi Istana sukacitaku
Karakterku yang kubentuk/kutukangi sesuai FCJM. Konggregasi FCJM yang kupilih menjadi rumahku, menjadi istana suka citaku.
Seperti proses hidup manusia pada umumnya, hidup rohani pun ditandai oleh pertumbuhan, perubahan dan perkembangan hidup di dalam Kristus yang mengubah manusia menjadi serupa dengan Allah walau pun tak sama. Setiap orang Kristen dipanggil untuk bertumbuh dalam kepenuhan, diundang untuk mengalami Yesus Kristus secara mendalam (bdk. 2 Ptr 3:18). Dengan kata lain, orang beriman mesti “bertumbuh dalam kasih” dan bersatu dengan Kristus (Ef 4:15) sehingga mampu membawa sukacita kepada sesamanya.
Hidup seorang kristiani merupakan partisipasi dengan hidup Allah sendiri. Apapun bentuk hidup yang kita pilih. Selain mendapat anugerah mengalami Allah, Religius juga memunyai misi menghantar sesama kepada Allah dan masuk dalam pengalaman bersama-Nya. Misi para religius adalah mengalami Allah yang hidup dan benar, dan melayani-Nya dalam sesama melalui kesaksian hidup dan kegiatan kerasulan bersama, sesuai karisma dan spiritualitas tarekat kita masing-masing, begitu juga dengan para suster FCJM Balita Kakel 2015 ingin tetap membawa sukacita injili bagi semua orang, menjadikan Kongregasi FCJM sebagai istana sukacita.
Dapat dikatakan hidup para religius melawan arus dunia yang bergelimang ketenaran, gila hormat dan kebebasan ini. Saat dunia menawarkan kekayaan, kaum religius dituntut untuk menghidupi kaul kemiskinan. Saat dunia menawarkan kekuasaan dan jabatan, kaum religius dituntun untuk taat pada pimpinan tarekat/ordo. Saat dunia menawarkan kebebasan, kaum religius dituntut untuk berani berkata cukup. Untuk menjadi seorang religus (FCJM) harus mampu membatasi diri dari segala kenikmatan dunia meski dunia terus maju dan berkembang seperti yang ditekankan Pendiri Kongregasi FCJM “Jika dunia menuntut hal yang luar biasa, kita juga harus bertindak luar biasa”.
Kalimat menarik yang disampaikan oleh P. Gonzales Nadean, OFM.Cap. adalah : “hanya orang yang bahagia mampu membahagiakan orang lain”. Ini menjadi kalimat penting dan menarik karena memang cukup logis, orang yang bahagia senantiasa membagikan kebahagiaan kepada yang lain, dan sebaliknya orang yang tertekan akan menyebarkan tekanan yang dialami kepada yang lain. Yang penting adalah, apa usaha yang kulakukan supaya aku bahagia, komunitasku bahagia dan orang-orang yang kulayani bahagia dalam Tuhan? Sehingga kongregasi FCJM menjadi istana sukacitaku.
Semakin lama semakin bersinar
Gubernur Dki Jakarta (Ahok) ingin memberantas korupsi yang semakin merajalela di Indonesia. Gubernur ini siap menghadapi resiko ke depan asalkan kebenaran/keadilan ditegakkan. Ahok semakin lama akan semakin bersinar dengan niat baik yang diperjuangkannya. Sosok Ahok sangat dibutuhkan sebagai pemimpin masa depan. Tak kenal kompromi, tegas, cepat bertindak, dan apa adanya inilah yang dibutuhkan untuk membenahi/membuat dunia semakin bersinar. "Dia akan bersinar” inilah uangkapan tentang Ahok yang tersebar dunia maya. Masayarakat jaman sekarang ini sudah lebih mudah melihat kegelapan dunia baik siang maupun malam, meski Raja Mahari masih setia menyinari setiap hati manusia. Kegelapan tersebut merabat ke kehidupan para biarawan/biarawati dan tak jarang hanya melihat sisi negatif dari orang lain/sesamanya. Menuntut berlebihan sementara tidak bisa berbuat.
Tahun ini dikhususkan untuk para Lembaga Hidup Bakti. Para religius diberi kesempatan untuk melihat kesetiaanya pada pilihannya. Hendaknya semakin lama biarawan/biarawati itu menghidup/menjalani panggilannya semakin bersinar dan mekar. Ahok saja bisa bersinar bagaimana dengan kita kaum biarawan/biarawati?. Sinar apakah yang kita pancarkan, apakah sinar kebencian atau sinar belaskasih?.
srwinanda@yahoo.co.id (Sr.Winanda Siregar FCJM)
Pada tanggal 04 Februari 2015, tepat pada pukul 20.45 Wib, Suasana komunitas Suster FCJM “Monteluco” tidak seperti hari-hari sebelumnya. Bunga mawar yang indah digenggam dan barisanpun diatur untuk menyambut tamu agung dari Paderborn yakni Bapak Uskup Paderborn, Pastor Peter,
Pastor Gregor Tuszynski, Sr. Angela Benoit, Bapak Ulrich Klauke, Bapak
Gregor Dolle, Meryam Klauke dan Magdalena Birkle. Kehadiran mereka
memberi warna baru dan indah, tawa dan senyum bahagia. Siapa yang
menyangka, Uskup Paderborn akan hadir di Indonesia secara khusus di
tengah-tengah para suster FCJM. Perasaan kagum, bahagia dan senang
bercampur menjadi satu sehingga memberi suasana yang indah bagaikan
pelangi sehabis hujan, karena kunjungan ini menjadi pembawa berkat bagi
kami.Ternyata, manusia yang ada di dunia ini dapat dipersatukan oleh cinta walau jarak yang begitu jauh. Seperti kata seorang suster yang paling muda, saya tidak menyangka kalau saya bisa bertemu dengan Bapak Uskup dan rombongan dari Paderborn, itu semua karena Tuhan yang memulai. Kedatangan Rombongan kami sambut dengan memberikan Bunga mawar yang kuncup dan berharap bunga Mawar tersebut akan mekar berseri seperti suasana malam itu. Tamu diarak masuk ke Ruang Makan dengan tortor batak. Walaupun suasana malam hari terasa gelap tapi saat itu matahari seakan bersinar menerangi kami untuk menyambut kedatangan Bapak Uskup dengan rombongan dari paderborn.
Perasaan kagum, bahagia, gembira semakin berkobar-kobar, ketika mendengar Bapak Uskup berbicara meminta agar selesai acara penyambutan ini, mereka akan ke kapel untuk mengadakan Perayaan Ekaristi. Bapak Uskup tidak meminta untuk makan dan istirahat tetapi berdoa. Cinta kepada Tuhan mengalahkan rasa lapar, lelah dan haus. Mereka tidak lapar makanan duniawi tetapi mereka lapar akan sabda Tuhan. Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup dan dua imam konselebran. Misa dirayakan dengan bahasa Jerman.
Seusai Perayaan Ekaristi, waktu menunjukkan pukul 22.20, para suster dan rombongan Bapak Uskup menuju Ruang makan untuk santap malam. Suasana kembali ramai diiringi tawa dan senyum yang tak dapat dibahasakan.
Tanggal 05 Februari 2015, Rombongan bapak Uskup dan Sr. Cornelia Silalahi sebagai Propinsial membawa rombongan untuk keliling kebeberapa tempat di Pematangsiantar, diantaranya: TK dan SD Tiga Dolok, R.S. Harapan, Nagahuta, Harapan Jaya, SMK, SMA, SMP Jl. Asahan, Bina Samadi, Novisiat FCJM dan Panti, Binasamadi dll.
Malam hari sebelum keberangkatan rombongan bapak Uskup, para Suster dan Postulan mencoba menampilkan bakat dan talenta dengan menari dan menyanyi untuk menghibur rombongan Bapak Uskup. Semua ingin memberi yang terbaik dan semua karena cinta. Kedipan kamera maupun HP mulai kelihatan menambah semaraknya acara malam itu, menjadikan pertemuan dan perjumpaan ini menjadi kenangan yang terindah dan tak terlupakan.
Sungguh, pengalaman ini menjadi pengalaman yang berharga bagi kongregasi FCJM, secara khusus bagi para suster yang tinggal di Rumah Pusat. Perjumpaan ini memberi semangat baru untuk menjalani panggilan Tuhan karena kunjungan ini seperti kunjungan Bunda Maria kepada Elisabet saudarinya.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, saatnya rombongan bapak Uskup akan melanjutkan perjalanan. Ingin rasanya pengalaman ini terulang kembali. Terimakasih kepada Bapak Uskup dan rombongan atas kunjungan yang membahagiakan ini. Kami tetap menantikan kehadiran Bapak uskup, Pastor, Suster dan saudari-saudara dihari-hari yang akan datang.
Refleksi;
Jika kunjungan Bapak uskup dan Rombongan dari Paderborn membawa kebahagiaan dan semangat baru kepada kita (suster-suster FCJM), bagaimana dengan kunjungan kita kepada orang lain? Apakah membawa kebahagiaan dan semangat baru bagi orang lain atau sebaliknya?. Mari melihat pengalaman kita dan memperbaharui diri demi kebahagiaan kita dan sesama serta bagi kemuliaan Tuhan.
Alunan melodi syahdu tergiang di telingaku, kucoba pejamkan mataku dalam kesunyian malam tak kunjung lelap. Arloji di tanganku sudah menunjukkan pada pukul 23.59 Wib. Aku berpaling dan memandang langit-langit kamarku, bayangan dua bulan silam kembali mengisi relung hatiku.
Kisah yang menakutkan itu membuatku kehilangan sebagian dari diriku. Kisah yang membuatku tak mampu lagi menegakkan kepalaku. Kuambil sejumlah album untuk mengisi malamku, foto yang penuh dengan pancaran senyuman murni dan tulus ketika mengenakan seragam sekolah. Aku terdiam dimana senyumku dulu bisik hatiku. Tiba-tiba saja air mataku membasahi wajahku selekas kisah itu terekam kembali dalam benakku, hingga akhirnya aku terlelap sampai pagi.
Sinar mentari seakan mengerti kekalutan hatiku, menyinari dan seolah mengajakku berjalan pada sebuah taman yang kutinggalkan pada enam tahun yang lalu. Seakan mau mengisahkan sebuah kehangatan cinta Ilahi di awal aku mengenal jubah putih. Aku mulai berkisah pada daun hijau disekelilingku. Aku tak menyangka masih sanggup berdiri di atas tanah yang telah kutinggalkan enam tahun lalu dengan jubah putihku. Enam tahun yang tak mudah kulalui, aku sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak tahu berujung di mana.
Aku dihantar pada sebuah kenyataan yang tak mudah aku terima, jalan penuh liku, orang-orang yang sulit kupahami dan juga tangan-tangan halus yang menyeka air mataku. Seakan semuanya itu membuatku tidak mengerti jalan yang telah kupilih, hingga saat yang menyedihkan itu kuputuskan untuk pergi selamanya dari gedung-gedung kebingungan itu dan pergi berteriak pada sebuah hutan luas melepas semua bebanku.
Tetapi tangan-tangan halus itu datang dan menyeka air mataku, memberikan kompas. Kompas yang utuh dan aku berharap kompas itu mampu menunjukkan segala arah yang kupilih dan memudahkan semua perjalananku. Ternyata tidak. Ditengah lautan saat perjalanan panjang kompasku hilang ditelah badai, kompas yang kugenggam, kupeluk dan tak ingin kulepas yang namanya agung dan kusebut Yesus.
Kami terlepas oleh ombak dasyat, ombak keegoisanku yang tak ingin lagi menangis dan bingung dalam setiap jalan yang kupilih. Entah aku yang salah atau Tuhanku sedang menguji akupun tak tahu.
Aku dihadapkan pada pilihan yang tak mudah memilih untuk meneruskan perjalanan atau berhenti karena ombak yang besar itu. Maka dengan harapan yang masih tersisa kuputuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Namun dalam perjalanan itu bukan hanya ombak tetapi mulai marasa bahwa perahu yang aku tumpangi sedang rusak. Aku mulai bertanya-tanya siapa yang membuat perahuku rusak, aku mulai menjerit ketakutan, aku berfikir segalanya akan berakhir. Kucari kembali kompas, kutunggu datangnya tangan-tangan halus alisa tangan-tangan malaikat untuk menolongku. Tetapi sungguh menyedihkan tangan-tangan halus tak mendengar suaraku. Yang muncul dihadapanku adalah batu karang yang menabrak perahuku dan melemparkan aku ke tengah badai, sehingga tak ada harapan akan selamat sampai tujuan.
Aku telah membayangkan sebuah akhir kehidupanku tanpa sipemilik tangan-tangan halus yang kumiliki selama perjalananku, yang telah memampukanku untuk terus melaju kearah yang akan kutuju. Aku membayangkan bahwa batu karang lautan, hewan-hewan buas di lautan ini akan mengakhiri seluruh perjalananku. Kubersimpuh tak berdaya, kulepas semua anganku tentang cita dan harapku tuk meraih mimpiku.
Suatu kejutan halus itu telah menopang perahuku dan membawakan kompasku yang hilang, aku hampir tak percaya akan semua yang terjadi, walau semua tangan-tangan halus itu atau malaikat-malaikat kecil itu sudah dihadapanku, ombak pun mulai menghindar tetapi masih kuurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan. Terbayang ketakutan akan bahaya ditengah lautan. Aku menyuruh sipemilik tangan-tangan halus itu pergi meninggalkanku sendirian, tetapi bujuk rayunya yang menyentuh hati membuatku tak berdaya untuk berpisah, sembari kumohon agar tetap bersamaku. Aku mencoba untuk menjadikan semuanya itu pedoman hidup, kupeluk kompasku erat-erat dan kini aku hampir tiba pada tujuanku, yaitu sebuah kesetiaan akan Sang Pemilik Kehidupanku, Sang Penunjuk arah dan jalanku.
Kini ia menunjukkan padaku sesuatu yang telah hilang dalam perjalanan yang kulalui, sesuatu itu sangat berharga yang pernah aku miliki. Di tempat aku berdiri kini kutemukan kembali segalanya kompasku.....YESUS....yang tak pernah meninggalkanku.
Sr.M.Alexandra Silitonga FCJM
Kisah yang menakutkan itu membuatku kehilangan sebagian dari diriku. Kisah yang membuatku tak mampu lagi menegakkan kepalaku. Kuambil sejumlah album untuk mengisi malamku, foto yang penuh dengan pancaran senyuman murni dan tulus ketika mengenakan seragam sekolah. Aku terdiam dimana senyumku dulu bisik hatiku. Tiba-tiba saja air mataku membasahi wajahku selekas kisah itu terekam kembali dalam benakku, hingga akhirnya aku terlelap sampai pagi.
Sinar mentari seakan mengerti kekalutan hatiku, menyinari dan seolah mengajakku berjalan pada sebuah taman yang kutinggalkan pada enam tahun yang lalu. Seakan mau mengisahkan sebuah kehangatan cinta Ilahi di awal aku mengenal jubah putih. Aku mulai berkisah pada daun hijau disekelilingku. Aku tak menyangka masih sanggup berdiri di atas tanah yang telah kutinggalkan enam tahun lalu dengan jubah putihku. Enam tahun yang tak mudah kulalui, aku sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak tahu berujung di mana.
Aku dihantar pada sebuah kenyataan yang tak mudah aku terima, jalan penuh liku, orang-orang yang sulit kupahami dan juga tangan-tangan halus yang menyeka air mataku. Seakan semuanya itu membuatku tidak mengerti jalan yang telah kupilih, hingga saat yang menyedihkan itu kuputuskan untuk pergi selamanya dari gedung-gedung kebingungan itu dan pergi berteriak pada sebuah hutan luas melepas semua bebanku.
Tetapi tangan-tangan halus itu datang dan menyeka air mataku, memberikan kompas. Kompas yang utuh dan aku berharap kompas itu mampu menunjukkan segala arah yang kupilih dan memudahkan semua perjalananku. Ternyata tidak. Ditengah lautan saat perjalanan panjang kompasku hilang ditelah badai, kompas yang kugenggam, kupeluk dan tak ingin kulepas yang namanya agung dan kusebut Yesus.
Kami terlepas oleh ombak dasyat, ombak keegoisanku yang tak ingin lagi menangis dan bingung dalam setiap jalan yang kupilih. Entah aku yang salah atau Tuhanku sedang menguji akupun tak tahu.
Aku dihadapkan pada pilihan yang tak mudah memilih untuk meneruskan perjalanan atau berhenti karena ombak yang besar itu. Maka dengan harapan yang masih tersisa kuputuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Namun dalam perjalanan itu bukan hanya ombak tetapi mulai marasa bahwa perahu yang aku tumpangi sedang rusak. Aku mulai bertanya-tanya siapa yang membuat perahuku rusak, aku mulai menjerit ketakutan, aku berfikir segalanya akan berakhir. Kucari kembali kompas, kutunggu datangnya tangan-tangan halus alisa tangan-tangan malaikat untuk menolongku. Tetapi sungguh menyedihkan tangan-tangan halus tak mendengar suaraku. Yang muncul dihadapanku adalah batu karang yang menabrak perahuku dan melemparkan aku ke tengah badai, sehingga tak ada harapan akan selamat sampai tujuan.
Aku telah membayangkan sebuah akhir kehidupanku tanpa sipemilik tangan-tangan halus yang kumiliki selama perjalananku, yang telah memampukanku untuk terus melaju kearah yang akan kutuju. Aku membayangkan bahwa batu karang lautan, hewan-hewan buas di lautan ini akan mengakhiri seluruh perjalananku. Kubersimpuh tak berdaya, kulepas semua anganku tentang cita dan harapku tuk meraih mimpiku.
Suatu kejutan halus itu telah menopang perahuku dan membawakan kompasku yang hilang, aku hampir tak percaya akan semua yang terjadi, walau semua tangan-tangan halus itu atau malaikat-malaikat kecil itu sudah dihadapanku, ombak pun mulai menghindar tetapi masih kuurungkan niatku untuk melanjutkan perjalanan. Terbayang ketakutan akan bahaya ditengah lautan. Aku menyuruh sipemilik tangan-tangan halus itu pergi meninggalkanku sendirian, tetapi bujuk rayunya yang menyentuh hati membuatku tak berdaya untuk berpisah, sembari kumohon agar tetap bersamaku. Aku mencoba untuk menjadikan semuanya itu pedoman hidup, kupeluk kompasku erat-erat dan kini aku hampir tiba pada tujuanku, yaitu sebuah kesetiaan akan Sang Pemilik Kehidupanku, Sang Penunjuk arah dan jalanku.
Kini ia menunjukkan padaku sesuatu yang telah hilang dalam perjalanan yang kulalui, sesuatu itu sangat berharga yang pernah aku miliki. Di tempat aku berdiri kini kutemukan kembali segalanya kompasku.....YESUS....yang tak pernah meninggalkanku.
Sr.M.Alexandra Silitonga FCJM
Tak terbiasa aku hidup tanpamu
Sepi rasanya dunia ini tanpa hadirmu
Termenung sendiri mengingat canda tawamu
Mengingat semua keluh kesahmu.
Tak ada kata lain selain rindu untukmu
Merindumu adalah makanan sehari-hariku
Menangis kala ku ingat senyum manismu
Sedih rasanya hati ini mengingat tingkah lakuku.
Disini aku kan selalu berdoa untukmu
Berdoa supaya engkau ada disisi-Nya
Ditempat yang paling indah di sana
Bersema semua malaikat Tuhan.
Ku mencintaimu ibu
Selalu mencintaimu
Tersimpan kokoh dalam hati
Tak akan pernah terganti dalam hidupku.
Sepi rasanya dunia ini tanpa hadirmu
Termenung sendiri mengingat canda tawamu
Mengingat semua keluh kesahmu.
Tak ada kata lain selain rindu untukmu
Merindumu adalah makanan sehari-hariku
Menangis kala ku ingat senyum manismu
Sedih rasanya hati ini mengingat tingkah lakuku.
Disini aku kan selalu berdoa untukmu
Berdoa supaya engkau ada disisi-Nya
Ditempat yang paling indah di sana
Bersema semua malaikat Tuhan.
Ku mencintaimu ibu
Selalu mencintaimu
Tersimpan kokoh dalam hati
Tak akan pernah terganti dalam hidupku.
Bicara ...................
...pada saat yang tepat adalah pilihan yang tepat
...di depan musuh adalah kesopanan
...pada waktunya adalah tepat
...Di depan ketidakadilan adalah suatu kebencian
Diam ……………
...tentang kekurangan sesame adalah cinta kasih
...pada waktunya kebijaksanaan
...tentang diri sendiri adalah kerendahan hati
...terhadap kata-kata tidak berarti adalah keutamaan
Bicara…………
...untuk membela adalah cinta kasih
...dihadapan suatu penderitaan adalah menghibur
...untuk membantu orang lain
...dengan terus terang adalah kejujuran
Diam………….
...waktu dituduh adalah kepahlawan
...waktu dicaci maki adalah cinta kasih
...akan penderitaan sendiri adalah pengurbanan
...dalam penderitaan adalah silih dosa
Bicara…………
...tentang diri sendiri adalah kesia-siaan
...menerangkan gosip adalah kebodohan
...menghilangkan kepalsuan adalah kesadaran
...memulihkan nama baik adalah kejujuran
Diam…………..
...waktu disakiti adalah kesucian
...untuk melinduging adalah kepahlawan
...akan kelemahan orang lain adalah kebaikan
...waktu harus bicara adalah sikap pengecut
Bicara……….
...asal bicara adalah kebodohan
...waktu harus diam adalah omong kosong
...tentang kekurangan orang lain adalah menyakiti
...tentang Tuhan adalah cinta kasih yang besar
Hari ini, empat puluh tahun sudah kualami
Bersamamu, Putri Hati Kudus Yesus dan Maria dalam hidup membiara
Kupersembahkan diriku, untuk menyatu dengan-Mu
Kuikrarkan kaulku untuk menggali sukacita dan kehidupan kekal
Hari demi hari, siang berganti malam
Kujalani jalan setapak ditengah kesunyian
Kulalui bersama-Mu Tuhan
Kurasakan sukacita, cobaan, kejenuhan
Dan ada muzijat dalam perjalanan hidupku.
Terimkasih buat seluruh keluargaku
Buat sahabat dan saudara-saudariku
Buat semua yang telah mendukungku
Untuk tetap kuat dalam menjalani panggilanku.
Aku bersyukur, bahwa aku ikut merayakan pesta hari ini
Aku bangga, bahwa Tuhan menuntun langkahku
Aku gembir dan yakin, bahwa aku tetap mengikuti Engkau
Dan aku setia untuk selama-lamanya.
Bersamamu, Putri Hati Kudus Yesus dan Maria dalam hidup membiara
Kupersembahkan diriku, untuk menyatu dengan-Mu
Kuikrarkan kaulku untuk menggali sukacita dan kehidupan kekal
Hari demi hari, siang berganti malam
Kujalani jalan setapak ditengah kesunyian
Kulalui bersama-Mu Tuhan
Kurasakan sukacita, cobaan, kejenuhan
Dan ada muzijat dalam perjalanan hidupku.
Terimkasih buat seluruh keluargaku
Buat sahabat dan saudara-saudariku
Buat semua yang telah mendukungku
Untuk tetap kuat dalam menjalani panggilanku.
Aku bersyukur, bahwa aku ikut merayakan pesta hari ini
Aku bangga, bahwa Tuhan menuntun langkahku
Aku gembir dan yakin, bahwa aku tetap mengikuti Engkau
Dan aku setia untuk selama-lamanya.






