Lumen
Umbra Dei artinya Cahaya adalah bayang-bayang Allah. Allah yang selalu
hadir dan melimpahi hidup kita dengan rahmat-Nya. Buku renungan harian
tahun 2017 yang merupakan olahan refleksi biblis oleh para Suster FCJM (Franciscanae Filiae Sanctissimae Cordis Jesus et Mariae) Provinsi Indonesia.
Manusia perlu berpikir dan bersyukur, to think and to thank
serta
ber-refleksi untuk menemukan esensi terdalam dari Sabda Allah itu
sendiri. Buku ini disusun dalam rangka mengajak kita untuk berfikir dan
bersyukur serta berefleksi atas pengalaman suka dan duka harian kita
masing-masing, yang disusun berdasarkan Kalender Liturgi Gereja dari
Komisi Liturgi KWI tahun 2017. Nama buku renungan “Cahaya Sabda” merujuk
pada buku yang berjudul “ Cahaya di dalam kegelapan”, ditulis oleh
M.Aristilde Flake. Buku ini memberi pengetahuan tentang sejarah singkat
hidup Pendiri Kongregasi FCJM, yakni Muder Maria Clara Pfänder.Ungkapan Muder Pendiri sangat konkrit dalam dunia factual saat ini. Situasi dunia yang dinamis, perkembangan teknologi yang melejit, domain kehidupan modern dan serba instan adalah fakta yang tak bisa kita pungkiri. Kita bersyukur atas perkembangan zaman ini, tetapi berhadapan dengan kenikmatan yang ditawarkan oleh perkembangan tersebut, kita harus memiliki kesadaran penuh untuk tetap kuat dalam menghadapi arus zaman supaya tidak hanyut. Kita hendaknya waspada dan bertekun dalam doa dan sabda Tuhan, sekaligus percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Kongregasi FCJM terinspirasi untuk membantu membawa “Cahaya Sabda” sebagai permenungan Kitab Suci dalam hidup harian kita sebagai putera-puteri Allah.

Tim Penulis menyuguhkan butir-butir refleksi yang dijadikan sebagai cahaya untuk menerangi kehidupan harian kita sebagai pelakon panggung kehidupan dalam berbagai domainnya. Namun, ikhtiar besar ini tidak akan terwujud apabila para penulis tidak bertekun diri untuk memulai berpikir, ber-refleksi dan menulis. Untuk itulah, ucapan terima kasih berlimpah secara khusus disampaikan kepada para Suster FCJM sebagai kontributor yang telah rela menuangkan dan membagikan hasil refleksinya, yakni : Sr. M. Cornelia Silalahi, FCJM, Sr. M. Lydia Simbolon, FCJM, Sr. M. Angela Siallagan, FCJM, Sr. M. Angelina Aritonang, FCJM, Sr. M. Frederika Hasugian, FCJM, Sr. M. Cunera Hasugian, FCJM, Sr. M. Clarita Silalahi, FCJM, Sr. M. Evifania Sinaga, FCJM, Sr. M. Emerensia Sitanggang, FCJM, Sr. M. Emiliana Situmorang, FCJM, Sr. M. Atanasia Manihuruk, FCJM, dan Sr. M. Zita Simarmata, FCJM.
Selain para penulis, banyak pihak turut memberi dukungan dalam menyelesaikan karya ini. Untuk itu, ucapan terima kasih berlimpah juga patut disampaikan kepada kelompok editor yang telah berjuang keras untuk melengkapi tulisan-tulisan reflektif para penulis. Para editor itu, diantaranya : RD. Daniel Manik, Sr. Agnes Tambunan, FCJM, Sr. Bernardine Silalahi, FCJM, Ananta Bangun, dan Stefanus Seo, S.Fil, MPA. Kepada mereka, kami haturkan limpah terima kasih. Terima kasih berlimpah juga disampaikan kepada keluarga besar Kongregasi FCJM atas segala bentuk dukungan dan kerja samanya. Puncak ucapan terima kasih ini dialamatkan kepada pimpinan dan seluruh personil Penerbit dan Percetakan PT. POHON CAHAYA Yogyakarta yang telah berkenan menerima naskah-naskah ini untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Juga kepada semua orang yang berperan penting di belakang layar percetakan dan penerbitan. Kepada anda semua, kami menghaturkan limpah terima kasih.
Gratia Domini cum Omnibus – Berkat Tuhan bagi Semua Orang !!!
Berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di antara
tembok-tembok yang tidak diplester dari Kapel Hati Kudus Yesus, Santa Clara
menuju Gratia, yang sebenarnya bermuara pada satu kata “Monteluco”. Pilar
bergaya Romawi dan interior rumah yang di isi meja dan kursi kayu dengan
anyaman rotan semakin mengentalkan suasa kesederhanaan.
![]() |
| Indahnya menjadi saudara |
Membahas pribadi Fransiskus Assisi memang tak ada habisnya. Fransiskus yang dikenal sebagai seorang pemuda kaya raya berbalik 180 derajat menjadi pengikut Kristus sejati. Hampir tak pernah tersentuh logika bahwa masih ada orang seperti Fransiskus yang berani mematikan kehendaknya, kegemilangan mimpi ayahnya Pietro Bernardone dan Ibunya Dona Pica hanya demi seorang KRISTUS YANG TERSALIB. Kegilaan Fransiskus ini menggelitik pikiranku saat menyusuri lorong kecil menjadi sebuah refleksi yang tertuang dalam tulisan ini. Meminjam kalimat latin yang mengatakan Amor mundum fecit, yang artinya Cinta itu menciptakan dunia. Idealnya, kehadiran kita sebagai pribadi mampu menghidupkan dunia bukan mematikan. Cinta akan memandang dengan kaca mata positif dan penuh sukacita. Kesulitan menjadi peluang bukan tantangan. Santo Fransiskus mengatakan, setiap saudara dan saudari adalah rahmat, maka mari menjadi saudara dan saudari bagi semua saja yang ada dimuka bumi ini, Be a Brother for all.
Kalimat terakhir diatas tentulah tidak terlalu gampang untuk di konkritkan tetapi juga tidak terlalu sulit. Password dari kalimat tersebut adalah “Peace”, damai. Kata “damai” menjadi alasan bagi kita untuk
| Pengalungan Bunga kepada Mgr.Anicetus B. Sinaga, OFMCap. |
Pagi
yang cerah, saat nafas pertama sang fajar berhembus menyapa
angin,
terdengar dentuman marching band yang dibawakan
oleh siswa/i SD St. Antonius Padua
Tiga Dolok menggelegar menyambut kedatangan rombongan Yang Mulia Uskup Keuskupan
Agung Medan, Mgr.
Anicetus Bongsu Antonius Sinaga, OFMCap.,
para imam, Dewan Pimpinan FCJM Provinsi Indonesia, Pengurus Yayasan Puteri Hati
Kudus, dan jajaran pemerintahan kecamatan Dolok Panribuan. Hari itu, Jumat
16/09/2016 mencatat sebuah sejarah bahwa acara pemberkatan dan peresmian SD St.
Antonius Padua Tiga Dolok, yang di awali dengan pengalungan bunga kepada Yang
Mulia Bapak Uskup Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap., Provinsial FCJM Provinsi
Indonesia, Sr.M.Cornelia Silalahi FCJM, Ketua Yayasan Puteri Hati Kudus (YPHK),
Sr.M.Frederika Hasugian FCJM dan Dandrem 022 Pantai Timur Pematangsiantar
diwakili oleh Kasilog Letkol B.Simbolon. Acara dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi
yang dipimpin oleh Yang Mulia Bapak Uskup Agung Medan, di damping oleh beberapa
imam konselebran, pada Pkl 09.00 WIB, kemudian perecikan ruangan sekolah,
penandatanganan Prasasti, pemotongan pita, serta acara ramah tamah.
| Pengguntingan Pita oleh Yang Mulia Bapak Uskup |
Dalam
kotbahnya, Yang Mulia Bapak Uskup menyampaikan bahwa belum
lama ini kita umat Katolik se-Kesukupan Agung Medan melaksanakan perhelatan akbar yakni SINODE VI
KAM, yang mengusung tema “keluarga
adalah Gereja kecil”. Hal ini memuat misi pendidikan bahwa keluargalah
sekolah perdana bagi anak-anak. Sebagaimana kita sering mendengar dalam
pengumuman di Gereja bagi setiap anak yang lahir, dikatakan dalam bahasa batak:
”sai gabe anak na hasea ma dakdanak on
diadopan ni Debata dohot dongan jolma” (Semoga anak ini
ini menjadi orang yang berguna dihadapan Tuhan dan sesamanya). Ungkapan ini
mengandung makna Pancasilais yang paling mendasar, juga sesuai dengan isi dokumen
Gereja mengenai pendidikan maupun dokumen nasional. Hendaklah anak didik
menjadi anak yang takwa kepada Tuhan dan berjasa bagi masyarakat. Hendaklah
anak didik menjadi orang beriman dan takwa kepada Tuhan dan berjasa kepada
Masyarakat.
Kiranya insan-insan
pendidikan dan keluarga di tempat ini berjanji agar tidak akan pernah
melahirkan orang-orang yang berwatak keras dan jahat. Mari mewujudkan cita-cita
bangsa kita yakni menjadi pembawa damai dan persaudaraan sejati. Saya
mengundang kita semua yang hadir disini, untuk melaksanakan pesan dari Konferensi
Tingkat Tinggi Asia–Afrika di Bandung tahun 1955,
yang sangat men dambakan persaudaraan seluruh dunia dan perdamaian lestari bagi
segala bangsa. Sekolah dan keluarga umat disini dituntut untuk bahu membahu, bersama
dengan pemerintah melahirkan orang-orang yang luhur serta bijak sebagaimana
telah dicita-citakan UUD 1945, yakni hendaklah kita mengutamakan persaudaraan
sejati dan perdamaian seluruh dunia. Jika hal ini kita patrikan dalam diri
kita, alangkah ajaib dan mulianya, alangkah indahnya hari ini menjadi permulaan
yang sangat cerah, tambahnya.
Kita telah mengetahui
bahwa sekolah merupakan “taman” intelektual. Di dalamnya terdapat
permainan intelek (asah, asih dan asuh
nalar nurani) bagi orang-orang yang mencintai pendidikan. Ketika ditransfer
dalam perspektif agama, sekolah kemudian diartikan sebagai “taman mini” Kerajaan
Allah yang mengakomodir setiap orang untuk mendapat pendidikan yang layak. Untuk menuwujudkan hal ini, para pemangku
pendidikan perlu kiranya menyediakan fasilitas yang mendukung. Fasilitas yang
mendukung tersebut yakni, para pendidik baik kepala sekolah, pendidik dan
kependidikan, gedung sekolah, dan fasilitas lainnya. Keseluruhan stakeholder itu turut menentukan
kompetensi anak didik yang diharapkan.
| Yang Mulia Uskup Medan, Para Imam Konselebran, DPP FCJM, Pengurus YPHK berpose bersama |
Secara geografis,
lokasi SD St. Antonius Padua cukup primitif dan nampaknya sulit untuk
berkembang karena rumah di sekitar sekolah tersebut masih bisa dihitung dengan jari,
sehingga Bpk. Albert Sinaga, pengurus YPHK dalam sambutannya mengatakan secara
materi Yayasan mengalami kerugian dalam membangun gedung sekolah ini, dan akan
lebih menguntungkan bila diinvestasikan ke bank. Namun, Yayasan mendirikan
sekolah ini bukanlah untuk akses bisnis, dan Yayasan berusaha menabung di BTS (Bank Tabungan Sorga), sehingga Yayasan merasa sangat beruntung
karena menabung kebaikan di tempat ini. Ada ungkapan dalam bahasa simalungun mengatakan
“ai aha do na I parayak mu na manggoluh on” (apa
yang kamu cari di dalam hidup ini). Diharapkan sekolah ini menjadi
istana yang membahagiakan bagi anak-anak bangsa. Maka, perlu ada sinergitas antara kaum pendidik, orangtua, dan
pemerintahan. Orangtua perlu menyadari perannya sebagai
guru dan imam. Sebagai guru yang yang memberikan pendidikan dan pengajaran dan
sebagai imam yang menguduskan dan gembala yang menuntun dan mengarahkan. Inilah
implementasi tema SINODE VI KAM yang baru saja kita laksanakan, yakni “keluarga sebagai gereja kecil”.
Sekolah ini akan
berupaya mengangkat harkat mereka yang kurang beruntung dalam masyarakat sehingga menjadi setara
dengan mereka yang memiliki previlese. Sehingga dalam konteks ini, guru memiliki fungsi
liberatif, yakni membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan dan membuat anak-anak
orang miskin mengalami mobilitas sosial dalam masyarakat. Namun, bagi setiap orang yang
memungkinkan terjadinya mobilitas sosial, terdapat juga pandangan lain yang
lebih radikal. Alih-alih sebagai lembaga yang membebaskan, seperti kita lihat pada
kenyataannya banyak sekolah hanya melestarikan status
quo dan mereproduksi struktur sosial dan ketimpangan dalam masyarakat.
Sekolah memiliki fungsi konservatif, yaitu melanggengkan ketimpangan dan
semakin memperlebar jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. Sekolah
bukannya membawa si miskin pada mobilitas sosial lebih tinggi melainkan malah
membuatnya terpinggir dan tersisih.
Mudah-mudahan hal ini tidak akan dijumpai di sekolah ini.
Oleh karena itu, tugas
berat berada di pundak para guru kami, demikian disampaikan oleh Sr.M.Cornelia
Silalahi FCJM, Provinsial FCJM. Kita tau
bahwa guru adalah pelaku perubahan. Di zaman kita yang kompleks ini, ditangan para
gurulah kita letakkan hakekat perubahan itu, karena dengan
kegiatannya mengajar, ia membentuk identitas keguruannya. Dan melalui identitas
inilah ia mengukuhkan dirinya sebagai pelaku perubahan. Kegiatan mengajar yang
dilakukan guru di kelas akan memberikan perubahan dalam diri siswanya yang akan
berguna bagi hidupnya mengatasi batas-batas kelas. Sebagai pelaku perubahan,
guru menngubah siswa menjadi lebih baik, lebih pandai, lebih memiliki
ketrampilan yang berguna bagi pengembangan profesi mereka dalam masyarakat.
Guru membuat siswa memahami persoalan dengan lebih jernih sehingga mampu membuat
keputusan dan bertindak secara tepat dan bertanggungjawab dalam hidup mereka.
Guru yang baik membuat siswa siap terjun secara aktif dalam masyarakat sehingga
mampu membangun dan menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik dari yang
sekarang ini mereka alami.
Singkatnya, guru menjadi penentu perubahan dan masa depan bangsa. Maka
diharapkan, guru tetap mampu menumbuhkan kemampuan dirinya
sebagai pelaku perubahan adalah dengan menghayati visi pribadi. Dengan demikian, kita ambil kesimpulan bahwa Pendidikan adalah password penyambung masa depan bangsa
yang lebih cerah.
Untuk itu, kami sangat
mengharapkan adanya kerjasa sama yang baik antara Yayasan, kepala sekolah,
guru, orangtua, anak didik, pihak pemerintahan setempat, Gereja, dan semua saja
yang berandil dalam menentukan kemajuan dan mutu anak-anak bangsa kita di
tempat ini. Hal ini memang tidaklah gampang, namun kami yakin dengan niat baik
yang tertanam di hati kita masing-masing kita mampu mengayunkan perahu
pendidikan di sekolah ini kearah yang lebih baik dan maju, ungkap Sr. Cornelia saat mengakhiri acara
ini. * Sr. Angela Siallagan FCJM.
Hidup tak bisa dihabiskan dalam bekerja melainkan kerja haruslah menjadi penikmat kehidupan. Mesin punya titik panasnya. Manusia pun mempunyai titik lelahnya. Jika main paksa, maka bersiaplah untuk terima akibat buruknya.
Dalam setiap situasi, manusia yang bekerja akan menemukan sebuah titik jenuh, merasa bosan. Dalam situasi kejenuhan itulah, manusia membutuhkan apa yang disebut refresing atau penyegaran lewat rekreasi. Itulah sebabnya manusia disebut sebagai homo recreo. Kita butuh rekreasi, refresh dari rutinitas yang menyita energi dan pikiran.
Nah....beginilah cara kami menghayati atribut sebagai manusia mahkluk rekreasi.
Mengingatkan kita untuk tidak mengernyitkan dahi, memoncongkan bibir saat energi hampir punah...

Mari berkisah pada sepotong senja di danau toba nan indah....kataku,
Dalam setiap situasi, manusia yang bekerja akan menemukan sebuah titik jenuh, merasa bosan. Dalam situasi kejenuhan itulah, manusia membutuhkan apa yang disebut refresing atau penyegaran lewat rekreasi. Itulah sebabnya manusia disebut sebagai homo recreo. Kita butuh rekreasi, refresh dari rutinitas yang menyita energi dan pikiran.
Nah....beginilah cara kami menghayati atribut sebagai manusia mahkluk rekreasi.
Mengingatkan kita untuk tidak mengernyitkan dahi, memoncongkan bibir saat energi hampir punah...

Mari berkisah pada sepotong senja di danau toba nan indah....kataku,
Senin, 06 Juni 2016 merupakan moment bersejarah bagi Kongregasi FCJM. Moment ini dimaknai dengan Perayaan Ekaristi dan syukuran atas tumbuhnya tunas baru FCJM, yakni 14 orang Postulan diterima memasuki masa Novisiatnya. Perayaan ekaristi di pimpin oleh RP. Andreas Win Turnip, OFMCap., mengajak para Pastor, Suster, dan umat yang hadir untuk mampu setia dalam panggilan Tuhan. Para Suster Novis yang baru menerima jubah Biara ini hendaknya menanamkan di dalam hatinya, bahwa jubah ini adalah jubah pertobatan. Jubah ini diterima karena kerelaan untuk meninggalkan hal-hal duniawi, meskipun masih sedang berada di dunia. Novisiat punya cerita dalam hidup membiara. Novisiat menyimpan sejuta kenangan indah dan bahagia. Masa Novisiat adalah masa di Gunung Tabor.
Kapel FCJM “Greccio” ini mendadak riuh dengan tepuk tangan, gemuruh dengan tempik sorak tak terkendali para Suster dan umat yang menyesaki ruang tersebut saat para Pembina Novis menjawab dengan kata “SIAPPPPP”, dengan semangat yang membara dan bahagia. Namun, kemudian ruangan menjadi senyap kembali, sesaat Perayaaan Ekaristi akan di akhiri dengan berkat penutup.
Selamat kepada ke 15 Suster Novis yang memakai Jubah Pertobatan dan mari belajar meneladan visi dan misi Kongreasi FCJM bersama dengan pendiri kita Muder Maria Clara Pfänder sehingga kita mampu setiap merawat panggilan Tuhan yang telah tumbuh dalam diri kita, pungkas Sr. Cornelia Silalahi, FCJM untuk mengakhiri acara tersebut.
Maka, selamat kepada para Suster Novis yang tinggal di Gunung Tabor selama dua tahun ini, ungkap RD. Andreas dalam kotbahnya.
Acara yang di adakan di Sinaksak, Pematangsiantar ini dimulai pada Pkl
17.00 WIB, dan dihadiri oleh para Suster FCJM yang berkomunitas di
sekitar Pematangsiantar, dan anak-anak Panti Pius ke IX.
Postulan Maria de Jesus yang mengambil nama Biara Sr.M.Antonia de Jesus juga diterima memasuki masa Novisiatnya di Komunitas FCJM, Atambua, pada tanggal 21 Mei 2016 yang lalu. Maka, mari meyambut ke 15 orang tunas muda FCJM dalam masa pembinaan di Novisiat, sambut Sr. Cornelia Silalahi FCJM sebagai Propinsial FCJM Propinsi Indonesia. Mari kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah menanamkan benih panggilan dalam hati para pemudi ini. Maka, DPP FCJM Propinsi Indonesia menyerahkan tugas pembinaan para Suster Novis ini kepada keempat Pembina Novis, yakni Sr.Avelina Simbolon FCJM, Sr. Yovita Manalu FCJM, Sr. Evifania Sinaga FCJM, dan Sr. Albertine Situmorang FCJM.
Postulan Maria de Jesus yang mengambil nama Biara Sr.M.Antonia de Jesus juga diterima memasuki masa Novisiatnya di Komunitas FCJM, Atambua, pada tanggal 21 Mei 2016 yang lalu. Maka, mari meyambut ke 15 orang tunas muda FCJM dalam masa pembinaan di Novisiat, sambut Sr. Cornelia Silalahi FCJM sebagai Propinsial FCJM Propinsi Indonesia. Mari kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah menanamkan benih panggilan dalam hati para pemudi ini. Maka, DPP FCJM Propinsi Indonesia menyerahkan tugas pembinaan para Suster Novis ini kepada keempat Pembina Novis, yakni Sr.Avelina Simbolon FCJM, Sr. Yovita Manalu FCJM, Sr. Evifania Sinaga FCJM, dan Sr. Albertine Situmorang FCJM.
Para Suster Novis baru berpose bersama Imam dan DPP FCJM |
Selamat kepada ke 15 Suster Novis yang memakai Jubah Pertobatan dan mari belajar meneladan visi dan misi Kongreasi FCJM bersama dengan pendiri kita Muder Maria Clara Pfänder sehingga kita mampu setiap merawat panggilan Tuhan yang telah tumbuh dalam diri kita, pungkas Sr. Cornelia Silalahi, FCJM untuk mengakhiri acara tersebut.


